Kerajaan Salim Runtuh di 1998, Bangkit Kembali dengan Kekayaan Rp 188 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Krisis moneter 1998 menghancurkan imperium bisnis Salim Group yang dibangun selama tiga dekade, ditandai dengan perusakan aset dan pengambilalihan BCA oleh negara.
- Kedekatan pendiri Sudono Salim dengan Presiden Soeharto menjadi berkah sekaligus kutukan, memicu amuk massa anti-Tionghoa pada Mei 1998 yang menargetkan properti keluarga.
- Dua puluh lima tahun kemudian, Anthony Salim sukses membangun kembali kerajaan bisnis di sektor migas, data center, dan perbankan, dengan kekayaan mencapai US$ 10,6 miliar.

Kerajaan bisnis Salim Group, yang identik dengan Indofood dan BCA, nyaris lenyap dalam hitungan hari pada Mei 1998 akibat krisis ekonomi dan kerusuhan rasial. Namun, dua dekade lebih setelah titik nadir itu, keluarga Salim kembali masuk jajaran orang terkaya Indonesia dengan kekayaan Rp 188,88 triliun, membuktikan kemampuan bangkit dari keterpurukan.
Pendiri grup, Sudono Salim (Liem Sioe Liong), membangun imperiumnya berkat hubungan erat dengan Presiden Soeharto. Sejak Perang Kemerdekaan, ia menjadi pemasok logistik bagi pasukan Kolonel Soeharto. Hubungan ini berlanjut hingga Orde Baru, di mana Salim mendapat perlindungan dan kemudahan bisnis, sementara ia mengalirkan dana ke keluarga penguasa. Selama tiga dekade, lahirlah tiga pilar bisnis: BCA di perbankan, Indocement di konstruksi, serta Bogasari dan Indofood di sektor pangan.
Krisis 1998 menjadi titik balik. Nilai tukar rupiah ambruk, inflasi melonjak, dan kepercayaan publik luntur. Nasabah BCA berbondong-bondong menarik dana, membuat bank tersebut terancam kolaps. Kondisi politik yang memanas memicu kerusuhan 13-14 Mei 1998, di mana massa marah menyasar properti milik etnis Tionghoa yang dianggap kroni Soeharto. Rumah mewah Sudono Salim di Roxy dibakar dan dijarah, sementara foto-fotonya dinodai di jalanan. Beruntung, Salim dan keluarganya sedang di Amerika Serikat untuk operasi mata, sehingga selamat dari amukan massa.
Puncak kehancuran terjadi seminggu setelah Soeharto lengser. Pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) mengambil alih BCA dan menjadikannya bank takeover. Sejak itu, BCA lepas dari genggaman keluarga Salim. Untuk bertahan, Salim Group hanya mengandalkan Indofood sebagai mesin bisnis utama. Anthony Salim, putra pendiri, memimpin restrukturisasi dan perlahan membangun kembali portofolio bisnis.
Kini, 25 tahun kemudian, Salim Group telah bangkit dan terdiversifikasi ke sektor migas, konstruksi, data center, dan kembali ke perbankan. Forbes menempatkan Anthony Salim dan keluarga di posisi kelima orang terkaya Indonesia dengan kekayaan US$ 10,6 miliar. Kisah ini menjadi pelajaran tentang risiko bisnis yang bergantung pada koneksi politik, sekaligus bukti ketangguhan dalam menghadapi krisis. Pertanyaan yang tersisa: mampukah generasi ketiga mempertahankan warisan ini di tengah disrupsi ekonomi global?



