Drone Bermuatan Bahan Peledak Ditemukan di Bandara Leipzig, Jerman Buka Investigasi Teror
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Jerman membuka penyelidikan kontraterorisme setelah drone berisi bahan peledak ditemukan di area kargo Bandara Leipzig/Halle, memaksa penutupan sementara landasan pacu.
- Insiden ini memicu kekhawatiran akan sabotase infrastruktur kritis Eropa, mengingat pola penerbangan drone tak sah yang sebelumnya dikaitkan dengan dugaan keterlibatan Rusia.
- Langkah investigasi difokuskan pada kemungkinan keterkaitan dengan insiden kebakaran paket tahun 2024, sementara keamanan bandara di Eropa diperketat.

Otoritas Jerman resmi membuka penyelidikan kontraterorisme pada Rabu (5/8) setelah sebuah drone bermuatan bahan peledak ditemukan di dekat landasan pacu Bandara Leipzig/Halle, salah satu pusat kargo udara terbesar di Eropa. Temuan ini sempat melumpuhkan operasional bandara dan mengalihkan sejumlah penerbangan kargo, memicu kekhawatiran akan ancaman sabotase terhadap infrastruktur logistik vital di kawasan tersebut.
Drone tersebut ditemukan oleh petugas bandara di area kargo terlarang dekat landasan pacu selatan pada Selasa malam. Akibatnya, penerbangan dihentikan sementara dan beberapa pesawat, termasuk milik perusahaan logistik DHL, dialihkan ke bandara lain. Meski demikian, otoritas setempat menegaskan tidak ada bahaya bagi penumpang maupun staf bandara, dan sebagian besar operasional kembali normal setelah satu landasan pacu dibuka kembali pada pagi hari.
Insiden ini menjadi lebih rumit ketika sebuah pesawat kargo DHL yang dialihkan dilaporkan menabrak objek tak dikenal saat terbang menjauh dari bandara. Setelah mendarat di Hannover, ditemukan kerusakan ringan pada pesawat tersebut. Sementara itu, landasan pacu selatan yang menjadi markas DHL dan Antonov Airlines asal Ukraina tetap ditutup untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh tim penjinak bom.
Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat dengan kepala badan keamanan negara pada Rabu malam. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kewaspadaan di bandara-bandara Jerman setelah serangkaian penerbangan drone tak sah di berbagai fasilitas militer, terminal energi, pelabuhan, dan perusahaan logistik. Polisi federal bahkan telah menyatakan bahwa penerbangan tersebut mungkin diorganisir oleh agen Rusia, meskipun Moskow membantah keterlibatan.
Menurut laporan media Jerman, Bild, drone tersebut ditemukan di dekat pesawat kargo Antonov Ukraina yang menggunakan Leipzig/Halle sebagai basis operasi sejak invasi Rusia pada 2022. Bahan peledak yang dibawa diduga merupakan jenis yang mudah dibuat dari pupuk dan bensin. Temuan ini memperkuat spekulasi tentang adanya upaya sabotase yang ditargetkan pada rantai pasokan udara Eropa, terutama yang terkait dengan dukungan logistik untuk Ukraina.
Jaksa penuntut anti-ekstremisme dan petugas kontraterorisme kini mengambil alih investigasi setelah para ahli mengonfirmasi bahwa drone tersebut membawa bahan peledak. Sebelumnya, badan keamanan Eropa telah menyelidiki serangkaian perangkat pembakar yang disembunyikan dalam paket dan terbakar pada 2024, yang memicu kekhawatiran tentang sabotase terhadap operator kargo udara. Beberapa perangkat ditemukan di gudang DHL di Leipzig dan dalam pengiriman barang di seluruh Eropa, namun juru bicara Kementerian Dalam Negeri Jerman menyatakan belum ada hubungan yang dapat ditentukan dengan insiden terbaru.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur logistik terhadap ancaman non-tradisional seperti serangan drone. Sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi pada transportasi udara untuk konektivitas domestik dan internasional, Indonesia perlu memperkuat sistem deteksi dan respons terhadap potensi ancaman serupa. Pengalaman Jerman menunjukkan bahwa insiden sekecil apa pun dapat memicu gangguan besar pada rantai pasokan global, yang pada akhirnya berdampak pada harga komoditas dan stabilitas ekonomi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana jaringan sabotase ini terorganisir dan apakah ada aktor negara di baliknya. Jika terbukti melibatkan Rusia, ini akan menjadi eskalasi signifikan dalam perang hibrida yang sedang berlangsung di Eropa. Bagi dunia, insiden ini menegaskan bahwa keamanan infrastruktur kritis bukan lagi sekadar isu militer, melainkan juga isu ekonomi dan geopolitik yang membutuhkan kerja sama internasional yang erat.



