Diusir dari Tanah Air, Pria Sukabumi Ini Mendirikan Kerajaan Hotel Mewah Global
Baca dalam 60 detik
- Adrian Zecha, pengusaha asal Sukabumi, mendirikan Aman Group yang kini mengelola 34 hotel mewah di 20 negara.
- Keluarga Zecha terusir dari Indonesia saat nasionalisasi era Soekarno, memaksanya membangun karier dari nol di luar negeri.
- Konsep butik eksklusif dengan jumlah kamar terbatas menjadi kunci sukses Aman dalam menarik wisatawan kelas atas.

Adrian Zecha, pria kelahiran Sukabumi yang sempat terusir dari Indonesia akibat gelombang nasionalisasi pada era 1950-an, kini tercatat sebagai salah satu pendiri jaringan hotel mewah paling prestisius di dunia: Aman Group. Dari pengusaha yang nyaris kehilangan segalanya, ia berhasil membangun imperium perhotelan dengan harga menginap rata-rata puluhan juta rupiah per malam.
Kisah Zecha bermula dari keluarga Tionghoa terpandang di Sukabumi. Ayahnya, William Lauw-Zecha, menjadi orang Indonesia pertama yang lulus dari University of Iowa pada 1923, sementara saudara-saudaranya menduduki jabatan tinggi di pemerintahan kolonial. Namun, kebijakan nasionalisasi Presiden Soekarno pada 1956–1957 menghancurkan posisi keluarga itu. Bisnis mereka diambil alih negara, dan keluarga Zecha terpaksa hengkang ke Singapura. Saat itu Adrian sedang menempuh pendidikan dan bekerja sebagai jurnalis di Amerika Serikat, sebuah profesi yang justru membawanya berkeliling dunia dan menumbuhkan minat di industri pariwisata.
Setelah bergelut di dunia jurnalistik, Zecha mulai merambah bisnis perhotelan pada 1972 dengan turut mendirikan Regent International Hotels. Namun, ambisinya yang sesungguhnya baru terwujud pada 1988, ketika ia mendirikan Aman Resort pertama di Phuket, Thailand, bersama rekannya Anil Thadani. Dengan modal awal US$ 4 juta, lahirlah Amanpuri—sebuah resor dengan kurang dari 50 kamar yang mengusung konsep eksklusif dan damai, sesuai arti "Aman" dalam bahasa Sanskerta.
Filosofi bisnis Zecha lahir dari ketidaksukaannya terhadap hotel-hotel besar yang menurutnya justru menutupi keindahan alam sekitar. Ia memilih lokasi-lokasi terpencil dan membangun resor kecil yang menyatu dengan lingkungan, memberikan pengalaman intim bagi tamu. Strategi ini terbukti jitu: para pelancong kelas atas rela membayar mahal demi privasi dan pelayanan personal yang maksimal. Martin Roll dalam buku Asian Brand Strategy (2015) mencatat bahwa pendekatan inilah yang membedakan Aman dari kompetitornya dan membuatnya begitu dicari.
Bagi Indonesia, kisah Zecha menjadi cermin pahit manis sejarah. Di satu sisi, nasionalisme era Soekarno memaksa putra terbaik negeri ini mengungsi, namun di sisi lain, diaspora justru melahirkan inovasi global. Saat ini, masyarakat Indonesia dapat berbangga karena nama besar Aman—dari Amanjiwo di Magelang hingga Amankila di Bali—berakar dari ide seorang anak Sukabumi yang tak pernah menyerah. Namun, kepemilikan Aman Group kini telah beralih ke tangan pengusaha Rusia, Vladislav Doronin, sejak 2014, meninggalkan tanda tanya: akankah Indonesia mampu kembali melahirkan pengusaha hotel sekelas Zecha di tengah iklim investasi yang semakin kompetitif?
Ke depan, industri perhotelan butik diprediksi terus tumbuh seiring meningkatnya permintaan wisatawan akan pengalaman personal dan berkelanjutan. Warisan Zecha—yang kini berusia 90 tahun—menjadi blueprint bagi generasi baru pengusaha Indonesia untuk berani bermimpi besar, meski harus memulainya dari negeri orang.



