Rod Stewart Terpaksa Pakai Oksigen di Atas Panggung, Fans Kecewa Berat
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi legendaris Rod Stewart hampir pingsan saat konser di Utah dan harus menggunakan tabung oksigen di atas panggung.
- Kontroversi muncul setelah ia terbang ke Boston menonton Piala Dunia sehari setelah membatalkan konser karena sakit.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang prioritas artis terhadap penggemar dan etika pembatalan mendadak.

Rod Stewart, penyanyi berusia 81 tahun, memicu kekhawatiran penggemar saat ia terlihat hampir pingsan dan harus menggunakan tabung oksigen di tengah konser di Utah, Jumat (26/6) waktu setempat. Momen tersebut terekam dalam video yang beredar luas, memperlihatkan sang legenda rock berpegangan pada piano dan properti panggung lainnya untuk menopang tubuhnya sebelum akhirnya staf membawa alat bantu pernapasan.
Konser di Utah First Credit Union Amphitheatre, West Valley City, itu sempat terhenti beberapa menit. Stewart kemudian bercanda kepada penonton bahwa ia hampir pingsan, namun tetap melanjutkan pertunjukan sambil duduk di kursi. Insiden ini terjadi hanya beberapa pekan setelah ia membatalkan sejumlah konser karena masalah kesehatan, termasuk infeksi sinus dan radang tenggorokan (laringitis).
Pada akhir Mei, Stewart membatalkan dua pertunjukan residensi di The Colosseum, Caesars Palace, Las Vegas, atas perintah dokter untuk mengistirahatkan pita suaranya. Ia menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial, menyebut sedang dalam pemulihan dari infeksi sinus. Dua pekan kemudian, ia kembali membatalkan konser di Chula Vista, California, hanya beberapa jam sebelum panggung dimulai, setelah didiagnosis menderita infeksi saluran pernapasan akut yang menyebabkan laringitis.
Namun, kontroversi justru meletus ketika Stewart mengunggah video dirinya bersama dua putranya, Liam (31) dan Alistair (20), terbang dengan jet pribadi ke Boston untuk menonton pertandingan Piala Dunia antara Skotlandia dan Haiti. Dalam video tersebut, ia berkata, "Ini sudah 28 tahun, saya sudah cerita pada mereka, tapi mereka belum pernah. Saya sudah ke tujuh Piala Dunia."
Unggahan itu langsung menuai kritik tajam dari penggemar yang kecewa. Seorang warganet menulis, "Terlalu sakit untuk tampil, tapi cukup sehat untuk terbang ke seberang negara demi sepak bola?" Komentar lain menyebut tindakan Stewart sebagai "tidak peka" dan "mengabaikan ribuan penggemar yang sudah membayar tiket, hotel, dan cuti kerja." Sebagian besar kritik menyoroti kontras antara pembatalan konser mendadak dan perjalanan santai ke pertandingan sepak bola keesokan harinya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, insiden ini mengingatkan pada pentingnya transparansi artis dalam mengomunikasikan kondisi kesehatan. Di era media sosial, setiap langkah publik figur diawasi ketat. Keputusan Stewart untuk tetap bepergian meski dalam kondisi sakit menunjukkan bahwa tekanan untuk memenuhi ekspektasi penggemar dan jadwal tur sering kali berbenturan dengan prioritas pribadi. Di Indonesia, kasus serupa pernah terjadi ketika beberapa musisi lokal membatalkan konser mendadak tanpa penjelasan memadai, yang berujung pada kekecewaan dan tuntutan refund.
Menurut analis industri hiburan, pembatalan konser mendadak seperti yang dilakukan Stewart dapat merusak kepercayaan penggemar, terutama jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang empatik. "Penggemar memahami bahwa artis juga manusia yang bisa sakit. Namun, ketika mereka melihat artis tersebut menikmati liburan sehari setelah pembatalan, wajar jika timbul kemarahan," ujar seorang pengamat musik yang enggan disebut namanya.
Ke depan, Stewart dijadwalkan melanjutkan tur musim panasnya. Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah: akankah penggemar memaafkan dan tetap setia, atau justru insiden ini menjadi titik balik dalam hubungannya dengan audiens? Di tengah persaingan ketat industri hiburan, kepercayaan adalah aset yang tak ternilai—dan sekali hilang, sulit untuk dikembalikan.

