Milo Ventimiglia: Menjadi Ayah Mengubah Cara Saya Berakting
Baca dalam 60 detik
- Aktor This Is Us mengaku peran sebagai ayah memperkaya emosi yang bisa ia tuangkan dalam akting.
- Kehilangan rumah akibat kebakaran California 2025 justru mendorongnya untuk terus maju demi keluarga.
- Ventimiglia kini lebih selektif memilih proyek, memikirkan warisan yang akan dilihat anak-anaknya kelak.

Milo Ventimiglia, aktor yang dikenal lewat serial This Is Us, mengungkapkan bahwa menjadi seorang ayah telah mengubah perspektifnya terhadap dunia akting. Di usia 48 tahun, ia merasa tanggung jawab sebagai orang tua justru memperdalam kemampuannya dalam menghayati peran.
Ventimiglia yang memiliki putri berusia 16 bulan, Ke’ala, bersama istrinya Jarah Mariano yang tengah hamil anak kedua, mengatakan bahwa kehidupan pribadinya kini memberi warna baru pada pekerjaannya. “Menjadi ayah memperdalam sumur emosi yang saya alami,” ujarnya kepada People. “Kami bekerja dengan emosi, jadi bisa mengakses sumur itu membuat akting lebih berdampak.”
Baginya, pekerjaan kini bukan lagi sekadar urusan pribadi atau tim produksi. “Saya melakukan ini untuk keluarga, untuk menafkahi. Saya paham arti waktu yang jauh dari mereka dan betapa beratnya semua itu,” tambahnya. Kesadaran ini membuat Ventimiglia lebih selektif dalam memilih proyek. Ia mulai memikirkan apa yang akan ditonton anak-anaknya kelak. “Saya bertanya, ‘Apa yang saya keluarkan ke dunia yang nanti akan diambil anak saya dan berkata, “Ayo tonton acara TV Ayah?” ’ ”
Pengalaman pahit kehilangan rumah akibat kebakaran California 2025, yang terjadi tak lama sebelum kelahiran Ke’ala, justru menjadi cambuk baginya untuk terus maju. “Beberapa orang berhenti saat menghadapi masa sulit. Saya selalu mendorong diri ke depan,” katanya. Ia bahkan berusaha mengubah tragedi menjadi inspirasi: “Bagaimana saya bisa memperbaiki ini untuk keluarga? Bagaimana saya bisa mengubah peristiwa tragis dan peristiwa besar—seperti kebakaran dan kelahiran putri saya—menjadi seni?”
Perubahan pola pikir ini juga mengubah definisi sukses baginya. Dulu, ia mengejar penghargaan dan pengakuan. Kini, setelah bekerja dengan banyak orang dan meraih berbagai pencapaian, ia merasa akting bukan lagi untuk dirinya sendiri. “Saya merasa saya berakting untuk melayani orang lain. Dan saya baik-baik saja dengan itu,” ujarnya.
Bagi penggemar di Indonesia, kisah Ventimiglia mengingatkan bahwa tekanan hidup—baik sebagai orang tua maupun profesional—dapat menjadi bahan bakar kreativitas. Di tengah budaya kerja keras dan keluarga yang erat, pelajaran tentang keseimbangan antara ambisi dan tanggung jawab keluarga relevan untuk direnungkan. Pertanyaannya, mampukah para seniman dan pekerja kreatif di Indonesia meniru langkah Ventimiglia dalam mengubah cobaan menjadi kekuatan?
