Disney dan TikTok Jalin Kerja Sama: Konten Vertikal Masuki Disney+
Baca dalam 60 detik
- Disney dan TikTok mengumumkan kemitraan yang memungkinkan kreator menggunakan aset film dan serial Disney untuk video pendek, dengan konten terkurasi juga tampil di Disney+.
- Langkah ini menandai pertama kalinya video TikTok ditayangkan di platform lain, mencerminkan tren streaming yang mulai mengadopsi format vertikal.
- Bagi Indonesia, kerja sama ini berpotensi memperluas akses konten Disney dan membuka peluang kreator lokal, meski belum ada kepastian kapan menjangkau pasar Asia Tenggara.

Walt Disney dan TikTok resmi menjalin kemitraan strategis yang memungkinkan para kreator memanfaatkan karakter serta cuplikan dari film dan serial Disney dalam video pendek. Kesepakatan yang diumumkan pada Rabu (5/8) ini menjadi yang pertama antara platform media sosial populer dengan perusahaan media tradisional, sekaligus menandai babak baru dalam distribusi konten digital.
Melalui perjanjian ini, sejumlah video pilihan akan ditayangkan tidak hanya di TikTok, tetapi juga di layanan streaming Disney+. Konten tersebut akan ditempatkan dalam tab khusus bernama Verts, yang dirancang untuk menjaring audiens muda yang gemar mengonsumsi video vertikal melalui ponsel. Ini adalah kali pertama video dari TikTok tampil di platform lain, sebuah langkah yang menunjukkan pergeseran strategi Disney dalam menjangkau generasi digital.
TikTok akan memberikan akses kepada kreator untuk menggunakan aset dari ratusan film dan serial Disney, termasuk waralaba besar seperti Pixar, Marvel, Star Wars, dan FX. Program percontohan akan dimulai di Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang, dengan rencana perluasan ke pasar lain. Namun, nilai finansial dari kesepakatan ini tidak diungkapkan ke publik.
Langkah Disney ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Industri streaming global tengah berlomba mengadopsi format video vertikal yang pertumbuhannya pesat, terutama di kalangan pengguna muda. Comcast melalui Peacock dan Paramount+ telah meluncurkan serial vertikal, sementara Netflix memperkenalkan fitur Clips yang menyerupai gaya video TikTok. Dengan bergabung dalam tren ini, Disney berupaya tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumsi media.
Bagi Disney, kerja sama ini bukan sekadar menambah konten, melainkan juga strategi untuk menarik lebih banyak penonton ke layanan streaming mereka. Data internal TikTok menunjukkan bahwa platform tersebut memiliki pengaruh besar dalam keputusan menonton. โPendongeng terbaik adalah penggemar pertama,โ ujar Asad Ayaz, Chief Marketing and Brand Officer Disney, dalam pernyataan resmi. โKolaborasi ini menciptakan jembatan baru antara cerita yang kami kisahkan dan kreativitas yang mereka inspirasi.โ
Di Indonesia, perkembangan ini membuka peluang menarik bagi kreator lokal. Dengan basis pengguna TikTok yang besar di tanah air, kemitraan ini berpotensi memberikan akses ke aset Disney yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, belum ada kepastian kapan program ini akan menjangkau Asia Tenggara. Jika terealisasi, kreator Indonesia bisa memanfaatkan karakter ikonik seperti Marvel atau Star Wars untuk memperkaya konten mereka, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas negara.
Di sisi lain, langkah Disney juga mencerminkan dinamika industri hiburan global yang semakin terfragmentasi. Platform streaming kini tidak hanya bersaing dalam hal konten orisinal, tetapi juga dalam hal format dan cara distribusi. Dengan mengadopsi video vertikal, Disney menunjukkan bahwa mereka tidak anti terhadap tren baru, melainkan justru merangkulnya untuk memperluas jangkauan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana integrasi ini akan berjalan. Apakah konten TikTok akan menjadi bagian permanen dari Disney+ atau hanya eksperimen sementara? Bagaimana respons kreator dan penonton di berbagai pasar, termasuk Indonesia? Yang jelas, kolaborasi ini menandai era baru di mana batas antara media sosial dan layanan streaming semakin kabur, dan Disney tampaknya ingin berada di garda terdepan.



