Malaysia Tambah Dana Jurnalis Rp3,5 Miliar, Dorong Transformasi Digital Media
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia mengucurkan tambahan RM1 juta untuk Tabung Kasih@Hawana guna membantu 773 pekerja media yang membutuhkan.
- Dana Inovasi Media sebesar RM30 juta telah disalurkan ke 72 organisasi untuk mempercepat digitalisasi dan pelatihan.
- Perlindungan sosial diperluas ke pekerja lepas melalui i-Saraan EPF dan Skema Keselamatan Sosial Pekerja Sendiri.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan tambahan alokasi RM1 juta (sekitar Rp3,5 miliar) untuk Tabung Kasih@Hawana, dana bantuan bagi pekerja media yang mengalami kesulitan. Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan jurnalis di tengah tekanan industri yang kian berat.
Dalam pidato pada perayaan Hari Wartawan Nasional (Hawana) 2026 di Butterworth, Anwar yang juga menjabat Menteri Keuangan mengungkapkan bahwa hingga saat ini dana tersebut telah menyalurkan bantuan total RM2,26 juta kepada 773 pekerja media di seluruh negeri. “Melihat keberhasilannya dan semangat kepedulian, kami menambah RM1 juta untuk Tabung Kasih@Hawana pada 2026,” ujarnya. Dana yang dibentuk pada 2023 ini menyasar wartawan aktif maupun pensiunan yang membutuhkan bantuan biaya medis dan kesejahteraan keluarga.
Selain bantuan langsung, pemerintah Malaysia juga memastikan keberlanjutan Dana Inovasi Media yang digulirkan tahun lalu. Anwar mencatat dari total alokasi RM30 juta, sebanyak RM24,57 juta telah disalurkan ke 72 organisasi media. “Alokasi sudah siap dan kami akan memastikan dana ini tetap tercukupi agar implementasinya tidak terganggu,” tegasnya. Program ini dirancang untuk mendukung proyek inovasi, memperkuat kapasitas digital, serta mengembangkan konten dan pelatihan bagi pekerja media.
Menteri Komunikasi Datuk Fahmi Fadzil menambahkan bahwa pemerintah tengah mempercepat upaya membantu industri media menghadapi perubahan teknologi yang cepat, dengan fokus pada transformasi digital, adopsi kecerdasan buatan, dan perlindungan kesejahteraan yang lebih kuat. Ia menyebut Dana Inovasi Media sebagai inisiatif kunci dalam transformasi sektor ini. Pemerintah juga memperluas jaring pengaman sosial bagi pekerja media, terutama pekerja lepas dan kontributor lepas, melalui kontribusi ke Organisasi Keselamatan Sosial dan Kumpulan Wang Simpanan Pekerja (EPF).
Skema Keselamatan Sosial Pekerja Sendiri yang diperkenalkan pada 2024 telah menjangkau 531 pekerja media lepas dengan alokasi kontribusi hampir RM16.000. Pada tahun ketiganya, skema ini diperluas mencakup kontribusi i-Saraan EPF, yang telah dimanfaatkan 496 pekerja lepas dengan total kontribusi RM31.200. Fahmi juga mengumumkan Telekom Malaysia sebagai mitra strategis CSR Tabung Kasih@Hawana, menyumbang RM500.000 untuk memperluas bantuan bagi pekerja media yang kesulitan.
Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara kantor berita Bernama dan Tatoli dari Timor Leste untuk memperkuat kerja sama peliputan berita, pertukaran informasi, dan peningkatan kapasitas media. Perayaan Hawana tahun ini mengusung tema “Integritas Media Memperkuat Kredibilitas” dan dihadiri lebih dari 1.000 praktisi media dari Malaysia serta delegasi Timor Leste, Kamboja, dan Laos. Acara juga dimeriahkan karnaval tiga hari yang menampilkan pertunjukan budaya, musik, dan kuliner.
Ke depan, keberlanjutan dana bantuan dan inovasi ini akan menjadi ujian bagi komitmen pemerintah dalam menjaga independensi dan kualitas jurnalisme. Apakah langkah serupa dapat diadopsi di negara lain, termasuk Indonesia, yang menghadapi tantangan serupa dalam transformasi digital dan kesejahteraan jurnalis?



