Tradisi Tasyakuran Haji: Akar Budaya Nusantara, Bukan Ibadah Baru
Baca dalam 60 detik
- Tradisi tasyakuran sepulang haji merupakan kearifan lokal Indonesia, bukan ritual yang diada-adakan dalam Islam.
- Akar tradisi ini berasal dari masa lalu ketika perjalanan haji memakan waktu berbulan-bulan dengan risiko tinggi, sehingga syukuran menjadi wujud lega dan silaturahmi.
- Praktik ini dinilai sebagai sarana memperkuat hubungan sosial dan memotivasi calon jemaah lain, bukan sekadar seremoni keagamaan.

Setiap tahun, ribuan jemaah haji Indonesia kembali ke Tanah Air dan disambut dengan tradisi tasyakuran serta halal bihalal. Namun, di balik kemeriahan itu, masih ada anggapan bahwa praktik tersebut merupakan bid'ah atau ibadah yang tidak memiliki dasar. Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 Daker Bandara, Anis Dyah Puspita, menegaskan bahwa tradisi ini justru lahir dari kearifan lokal Nusantara, bukan sekadar tiruan budaya Arab.
Menurut Anis, tasyakuran sepulang haji sudah mengakar sejak zaman ketika perjalanan ke Tanah Suci ditempuh dengan kapal selama berbulan-bulan. Risiko keselamatan sangat tinggi, sehingga kepulangan menjadi momen yang sangat dinantikan. "Jangankan pulang, sampai ke Tanah Suci pun belum ada jaminan pada saat itu. Nah kemudian muncul adat istiadat atau budaya halal bihalal, pamitan," ujarnya di Madinah, Rabu (17/6/2026).
Tradisi ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur, tetapi juga sarana menyelesaikan persoalan antarmanusia. Anis menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, haji yang mabrur memerlukan maaf dari sesama manusia sebelum dosa diampuni Allah. "Salah satu syarat haji mabrur adalah jika kita masih ada selisih sesama manusia, muamalah yang kurang bagus, harus dimaafkan dulu oleh manusia," tuturnya.
Anis menekankan bahwa tasyakuran bukanlah ibadah yang diada-adakan, melainkan implementasi dari nilai-nilai haji itu sendiri. "Bukan ibadah yang diada-adakan, tapi implementasi dari ibadah itu sendiri. Bentuk seruan untuk saling memaafkan, berangkat dalam hati dan pikiran yang bersih," katanya. Ia juga mencontohkan bahwa halal bihalal saat Syawal pun tidak ditemukan dalam tradisi Arab, tetapi justru berkembang subur di Indonesia.
Selain dimensi spiritual, tradisi ini memiliki dampak sosial yang luas. Cerita pengalaman jemaah selama di Tanah Suci dapat menjadi motivasi bagi tetangga atau kerabat yang belum berangkat. "Jadi motivator bagi masyarakat baik ketika berangkat maupun ketika balik. Mereka yang belum terpanggil bisa menjadi semangat karena melihat tetangganya sudah melaksanakan," ujar Anis.
Bagi masyarakat Indonesia, tradisi tasyakuran haji adalah cerminan akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Alih-alih dipersoalkan sebagai bid'ah, praktik ini justru memperkuat kohesi sosial dan nilai-nilai kebersamaan. Ke depan, pemahaman yang tepat tentang akar budaya tradisi ini diharapkan dapat melestarikan praktik yang sarat makna tanpa menimbulkan perdebatan teologis yang tidak perlu.



