Anwar Klaim Pasokan Energi Malaysia Aman 20 Tahun Berkat Kesepakatan dengan Rusia dan Turkmenistan
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan jaminan pasokan minyak, gas, dan diesel dari Rusia untuk dua dekade ke depan setelah pertemuan bilateral dengan Presiden Putin.
- Petronas menandatangani perjanjian eksplorasi dua blok gas besar di Turkmenistan, memperkuat posisi Malaysia sebagai pemain energi global di kawasan Asia.
- Langkah ini dinilai sebagai strategi diversifikasi pasokan di tengah ketidakstabilan jalur Hormuz dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasar energi Asia.

Malaysia memastikan ketahanan energi nasionalnya untuk dua dekade mendatang setelah Rusia memberikan jaminan pasokan minyak, gas, dan diesel, sementara perusahaan energi negara Petronas memperluas cengkeramannya di Turkmenistan melalui kesepakatan eksplorasi baru. Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan hal ini dalam seremoni peletakan batu pertama kawasan industri di Penang, Sabtu (20/6), usai kunjungan kenegaraan ke Rusia dan Turkmenistan.
Menurut Anwar, Presiden Vladimir Putin memberikan komitmen jangka panjang yang memastikan pasokan energi Malaysia tetap aman setidaknya hingga 2045. โIni dimungkinkan berkat persahabatan antara kedua negara,โ ujarnya seperti dikutip The Star. Jaminan tersebut diperoleh dalam pertemuan bilateral di sela-sela KTT Peringatan ASEAN-Rusia di Kazan pada 17-18 Juni lalu, di mana Anwar dan para pemimpin Asia Tenggara lainnya membahas kerja sama energi, teknologi baru, dan isu keamanan regional.
Langkah Malaysia ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik global. Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari yang mengganggu pasokan minyak dan gas melalui Selat Hormuz, negara-negara Asia Tenggara berlomba mengamankan minyak Rusia untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar. Filipina, Indonesia, Vietnam, dan Myanmar turut menunjukkan minat serupa, meskipun berpotensi menimbulkan gesekan dengan sekutu Barat yang mendukung Ukraina. Malaysia sendiri konsisten menerapkan kebijakan netralitas strategis dan tidak bergabung dalam sanksi Barat terhadap Moskow pasca-invasi ke Ukraina pada 2022.
Selain jaminan dari Rusia, Anwar juga menyoroti kesepakatan energi baru dengan Turkmenistan yang ditandatangani saat kunjungannya pada 18-19 Juni. Petronas, melalui anak perusahaan Petronas Carigali (Turkmenistan) Sdn Bhd, akan mengembangkan dua blok gas besar di lepas pantai utara Turkmenistan. Perjanjian ini mencakup production sharing agreement untuk blok 19 dan 20 di Laut Kaspia, serta kerja sama survei seismik 2D untuk Northern Offshore Blocks. Anwar menyebut langkah ini โmemperkuat posisi Malaysia sebagai pemain energi yang disegani di tingkat global.โ
Petronas telah beroperasi di Turkmenistan selama sekitar 30 tahun, mengembangkan Blok 1 di sektor Turkmenistan di Laut Kaspia sejak 1996. Kesepakatan terbaru ini, menurut Anwar, merupakan hasil hubungan baik dan negosiasi intensif sejak Presiden Serdar Berdimuhamedov mengunjungi Malaysia pada Desember lalu. โKami juga dapat menggunakannya untuk meningkatkan ekspor ke negara mitra, terutama China, Jepang, dan Korea Selatan yang memiliki permintaan energi tinggi,โ kata Anwar seperti dilaporkan Bernama.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting dalam peta persaingan energi regional. Malaysia, yang merupakan tetangga dekat dan sesama anggota ASEAN, kini memiliki jaminan pasokan jangka panjang dari dua sumber utama: Rusia dan Turkmenistan. Sementara Indonesia masih bergulat dengan ketergantungan impor minyak dan upaya meningkatkan produksi domestik, langkah Malaysia menunjukkan urgensi diversifikasi sumber energi di tengah ketidakpastian geopolitik. Apakah Indonesia akan mengikuti jejak serupa dengan menjalin kesepakatan energi langsung dengan negara-negara produsen di luar OPEC? Atau justru memperkuat kerja sama dengan mitra tradisional di Timur Tengah? Pertanyaan ini menjadi krusial mengingat posisi Indonesia sebagai negara dengan konsumsi energi terbesar di Asia Tenggara.
Ke depan, kesepakatan Malaysia dengan Rusia dan Turkmenistan diprediksi akan mengubah dinamika pasar energi Asia. Dengan pasokan yang terjamin, Malaysia berpotensi menjadi hub distribusi energi bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia. Namun, risiko sanksi sekunder dari negara-negara Barat tetap mengintai, terutama jika hubungan Rusia-Barat semakin memburuk. Bagi Jakarta, langkah Anwar bisa menjadi pelajaran berharga: diplomasi energi yang cermat dapat menjadi kunci ketahanan nasional di tengah pusaran politik global.



