Bisnis Emas Ritel Moncer di Tengah Gejolak Global, JEI Incar Milenial hingga Boomer
Baca dalam 60 detik
- Jual Emas Indonesia (JEI) mencatat lonjakan transaksi dalam tiga bulan pertama operasinya, didorong minat investasi emas di tengah volatilitas pasar global.
- Startup ini membidik segmen ritel luas dari Gen Z hingga baby boomer, dengan layanan jual beli dan gadai emas tanpa batasan bentuk.
- Prospek bisnis emas ritel dinilai cerah, namun tantangan seperti fluktuasi harga dan regulasi perlu diantisipasi para pemain.

Lonjakan minat investasi emas di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global mendorong pertumbuhan bisnis logam mulia di Indonesia, salah satunya dirintis oleh Jual Emas Indonesia (JEI) yang baru berusia tiga bulan namun sudah mencatat transaksi signifikan.
Founder JEI, Juansen, mengungkapkan bahwa perusahaannya menawarkan jual beli logam mulia dan menerima pembelian emas dalam bentuk apa pun, mulai dari batangan hingga perhiasan. Model bisnis ini merupakan pengembangan dari usaha emas perhiasan yang sudah ada sebelumnya. “Kami fokus pada pasar ritel, menyasar milenial, Gen Z, hingga boomer,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Menurut Juansen, volatilitas harga komoditas akibat perang dagang, konflik geopolitik, dan ketidakpastian suku bunga global justru mengerek minat masyarakat terhadap emas sebagai aset safe haven. Hal ini tercermin dari peningkatan transaksi di JEI sejak diluncurkan. “Banyak investor ritel yang mulai beralih ke emas untuk diversifikasi portofolio,” tambahnya.
Dalam konteks Indonesia, bisnis emas ritel memiliki potensi besar karena budaya masyarakat yang kuat dalam menyimpan emas, baik sebagai investasi maupun warisan. Selain itu, penetrasi layanan keuangan digital memudahkan akses bagi generasi muda untuk berinvestasi emas dalam jumlah kecil. Namun, tantangan tetap ada, seperti fluktuasi harga yang tajam dan regulasi yang perlu dipatuhi, termasuk kewajiban pelaporan transaksi tertentu.
Menurut analis pasar komoditas, tren kenaikan harga emas diperkirakan berlanjut sepanjang tahun ini, didorong oleh kebijakan moneter longgar bank sentral global dan eskalasi konflik di beberapa kawasan. “Investor ritel perlu cermat dalam memilih platform jual beli emas, memastikan legalitas dan transparansi harga,” ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Ke depan, persaingan bisnis emas ritel diprediksi semakin ketat seiring masuknya pemain baru dan platform digital. Pertanyaan yang muncul: apakah model bisnis seperti JEI mampu bertahan dalam jangka panjang, atau hanya akan menjadi fenomena sesaat di tengah gejolak global?


