Gaza Kembali Berdarah: Enam Tewas Termasuk Dua Anak dan Jurnalis Al Jazeera
Baca dalam 60 detik
- Serangan Israel di Gaza Sabtu lalu menewaskan enam orang, termasuk dua anak-anak dan seorang juru kamera Al Jazeera, meski gencatan senjata Oktober masih berlaku.
- Korban jiwa sejak gencatan senjata telah melampaui 1.000 orang, memicu pertanyaan tentang efektivitas perjanjian damai yang rapuh.
- Insiden ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi jurnalis di zona konflik dan tantangan verifikasi klaim militer Israel.

Serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Sabtu (21/6) menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk dua anak perempuan dan seorang juru kamera Al Jazeera, menurut otoritas kesehatan Palestina. Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata yang telah berlangsung sejak Oktober antara Israel dan Hamas, namun kekerasan nyaris setiap hari terus memakan korban.
Sejak kesepakatan gencatan senjata diteken, lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel, demikian catatan Kementerian Kesehatan Gaza. Angka ini menunjukkan betapa rapuhnya perjanjian damai yang seharusnya menghentikan pertumpahan darah. Serangan terbaru dimulai sekitar pukul 02.00 dini hari, menghantam sebuah apartemen di Kota Gaza. Tim Associated Press di lokasi melaporkan puing-puing beton bernoda darah, sementara dua jenazah saudariโZina (4) dan Lana (14)โdibawa ke kamar mayat Rumah Sakit Shifa.
"Saya sedang duduk di rumah. Roket jatuh tanpa peringatan," ujar Mohammad Safadi, sepupu korban yang juga terluka di dahi. Istrinya pun ikut menjadi korban luka. Safadi mempertanyakan makna gencatan senjata yang diklaim oleh pihak pendudukan dan tim negosiasi. "Kami warga sipil. Saya tidak pernah memegang senjata," katanya dengan nada getir. Militer Israel menyatakan masih menyelidiki insiden tersebut.
Pada Sabtu malam, tiga serangan berturut-turut menewaskan empat orang dan melukai belasan lainnya. Serangan pertama menghantam rumah di kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah, tanpa peringatan. Tiga orang tewas, termasuk Ahmed Wishah, juru kamera Al Jazeera. Stasiun televisi itu mengonfirmasi kematiannya. Menariknya, saudara laki-laki Wishah, Mohamed, yang juga koresponden Al Jazeera, tewas dalam serangan Israel pada April lalu. Serangan kedua menyasar sekelompok orang di kamp tenda Muwasi, Gaza selatan, menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya. Serangan ketiga di Kota Gaza melukai setidaknya empat orang.
Militer Israel mengklaim serangan terhadap Wishah sebagai "serangan presisi" dan menuduhnya sebagai anggota sayap militer Hamas yang mengancam pasukan Israel. Sejak gencatan senjata, lima tentara Israel telah tewas. Pihak Israel menegaskan hanya menargetkan Hamas dan militan lain yang dianggap mengancam. Namun, data kematian warga sipil yang tinggi memicu kritik internasional. Kementerian Kesehatan Gaza, yang dikelola oleh pemerintah pimpinan Hamas, dianggap kredibel oleh PBB dan para ahli independen, meskipun tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil. Perempuan dan anak-anak disebut mencakup sekitar setengah dari total korban jiwa.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki resonansi kuat. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara konsisten mengecam kekerasan terhadap warga sipil Palestina. Serangan terhadap jurnalis juga menjadi perhatian serius, mengingat Indonesia memiliki sejarah panjang dukungan terhadap kebebasan pers dan perlindungan jurnalis di zona konflik. Kasus Ahmed Wishah menambah panjang daftar jurnalis yang gugur dalam peliputan konflik Gaza, menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan pekerja media di lapangan.
Ke depan, gencatan senjata yang terus dilanggar ini mempertanyakan efektivitas diplomasi internasional. Akankah komunitas global mampu menekan kedua belah pihak untuk benar-benar menghentikan kekerasan? Atau akankah siklus serangan dan balasan terus berlanjut, dengan warga sipil sebagai korban utama?



