AS-Iran Berunding di Swiss, Selat Hormuz Kembali Terancam Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden AS JD Vance dan delegasi Iran bertemu di Jenewa untuk merundingkan program nuklir dan gencatan senjata Lebanon, setelah sebelumnya tertunda akibat serangan Israel.
- Iran kembali mengancam menutup Selat Hormuz dengan alasan AS dan Israel melanggar gencatan senjata, mengancam pasokan energi global yang sempat pulih.
- Pakistan dan Qatar turut menjadi mediator, sementara pertempuran di Lebanon selatan terus berlangsung dengan tuduhan saling melanggar gencatan senjata.

Jenewa, Swiss — Babak baru perundingan antara Amerika Serikat dan Iran dimulai akhir pekan ini di tengah ketegangan yang kembali memuncak. Wakil Presiden AS JD Vance dan delegasi Iran tiba di kota tuan rumah Swiss pada Sabtu (20/6) untuk membahas dua agenda utama: program nuklir Teheran dan gencatan senjata di Lebanon. Namun, langkah ini diwarnai ancaman baru dari Iran yang menyatakan akan menutup kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia.
Vance, sebelum berangkat dari Washington, menyatakan optimisme bahwa perundingan dapat mencapai kemajuan. “Kami berharap bisa membuat kemajuan dalam isu nuklir dan gencatan senjata Lebanon. Itu dua hal besar yang akan kami fokuskan,” ujarnya kepada awak media. Perundingan lanjutan ini semula dijadwalkan pada Jumat lalu, tetapi ditunda mendadak setelah Israel melancarkan serangan mematikan di Lebanon yang menewaskan empat tentaranya. Washington kemudian mengumumkan gencatan senjata baru pada Jumat malam sebagai syarat kesepakatan awal dengan Iran, namun esoknya tentara Israel kembali bentrok dengan pejuang Hizbullah, saling tuduh melanggar gencatan.
Di tengah perundingan, komando militer Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz. Dalam pernyataan resmi, Teheran menuding AS melakukan “pelanggaran kontrak” dan “pelanggaran terus-menerus dan tanpa henti oleh rezim Zionis terhadap gencatan senjata di Lebanon selatan”. Selat tersebut sempat diblokade Iran selama sebagian besar perang, mengirimkan gelombang kejutan ke pasar energi global. Berdasarkan kesepakatan awal yang ditandatangani Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Teheran setuju membuka kembali jalur itu, dan lalu lintas pelayaran mulai pulih. Komando Pusat AS menyatakan bahwa jalur aman melalui perairan internasional itu “tetap utuh” dan pasukan AS “hadir dan waspada”. Trump kemudian memperingatkan bahwa Washington dapat memberlakukan tol sendiri di Hormuz jika negosiator gagal menyelesaikan kesepakatan.
Delegasi Iran yang tiba di Swiss dilaporkan mencakup Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa delegasi akan “menuntut implementasi komitmen pihak lain” berdasarkan kesepakatan. “Jika tidak, seluruh pemahaman akan berada dalam masalah,” katanya. Sementara itu, Vance hanya bisa tinggal “satu atau dua hari” dan menyebut negosiator AS Jared Kushner serta Steve Witkoff telah menangani “beberapa elemen teknis” dan melaporkan bahwa “segala sesuatunya berjalan baik”. Pakistan, yang membantu mediasi, mengumumkan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir telah berangkat ke Swiss untuk bergabung dalam pembicaraan tingkat tinggi, bersama mediator dari Qatar.
Di Lebanon selatan, pertempuran masih berlangsung. Militer Israel melaporkan satu tentara tewas, menjadikan total lima korban sejak kesepakatan AS-Iran. Seorang pejabat militer Israel kemudian mengatakan bahwa pasukan telah menerima perintah dari pimpinan politik untuk gencatan senjata dan tidak melakukan serangan proaktif, hanya beroperasi defensif di dalam zona keamanan. Namun, Hizbullah menuduh Israel melakukan “upaya infiltrasi menuju perbukitan Ali Taher” dengan dalih gencatan senjata, dan merespons dengan “senjata yang sesuai”. Media Lebanon melaporkan serangan udara Israel di sekitar 20 lokasi, dengan lebih dari 30 tewas. Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menyatakan kelompoknya memiliki “hak penuh untuk menghadapi musuh ini ketika menyerang kami”. Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, bersikukuh bahwa Hizbullah yang melanggar gencatan senjata. Warga yang mengungsi, Fadi Zayat, menggambarkan ketakutan masih mendominasi wilayah selatan. “Kami kembali ke desa beberapa hari lalu, tetapi tas kami siap untuk mengungsi lagi,” katanya.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah ini membawa implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi impor minyak Indonesia, dan setiap gangguan dapat mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri. Selain itu, konflik yang berkepanjangan berpotensi memperburuk situasi kemanusiaan dan menguji diplomasi Indonesia di kawasan. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah perundingan di Swiss menghasilkan kesepakatan yang bertahan, atau justru menjadi awal dari babak baru ketegangan yang lebih luas?



