Trump vs Meloni: Ketika Foto G7 Memicu Perang Kata Antar Sekutu
Baca dalam 60 detik
- Trump menuduh Meloni meminta foto berulang kali di KTT G7, yang dibantah keras oleh PM Italia sebagai kebohongan.
- Perseteruan ini memperparah ketegangan AS-Eropa, terutama soal kebijakan perdagangan, Greenland, dan perang Iran.
- Penolakan Italia terhadap penggunaan pangkalan militernya untuk operasi Iran menjadi akar konflik yang lebih dalam.

Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni memasuki babak baru yang lebih panas setelah Trump melontarkan serangan pribadi di media sosial, menuduh Meloni memohon-mohon untuk berfoto bersamanya di KTT G7 baru-baru ini. Tuduhan itu langsung dibantah Meloni sebagai 'tidak berdasar' dan memicu reaksi berantai di panggung diplomatik kedua negara.
Dalam unggahan di platform miliknya, Trump menulis bahwa Meloni 'berkali-kali meminta foto' saat pertemuan di Evian-les-Bains, Prancis. Ia bahkan menyebut popularitas Meloni sedang merosot karena dianggap menghalangi kepentingan AS, terutama terkait perang melawan Iran. 'Dia menolak Amerika Serikat, negara yang benar-benar mencintai dan melindungi Italia, dalam hal mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir,' tulis Trump, sembari salah mengeja nama depan Meloni.
Meloni tidak tinggal diam. Melalui unggahan di Instagram, ia menyebut serangan Trump sebagai 'senseless' dan menegaskan bahwa popularitasnya tidak ada hubungannya dengan hubungan bilateral. 'Menjadi temanmu jelas tidak membantu popularitasku. Popularitasku tergantung pada kemampuanku membela kepentingan nasional Italia,' balas Meloni. Ia bahkan menambahkan sindiran: 'Aku sarankan kau fokus pada popularitasmu sendiri.'
Ketegangan ini bukan sekadar perang kata-kata. Di baliknya, terdapat gesekan serius yang sudah lama menggerogoti hubungan AS-Eropa. Kebijakan tarif Trump, ancaman mengambil alih Greenland, dan keputusan sepihak menyerang Iran telah membuat banyak sekutu Eropa gelisah. Italia sendiri, sebagai hub logistik utama AS di Mediterania, menolak mengizinkan pesawat pengebom Amerika menggunakan pangkalan di Sisilia tanpa persetujuan parlemen pada Maret lalu. Keputusan itu didasarkan pada konstitusi Italia dan kuatnya oposisi domestik terhadap perang.
Bagi Indonesia, perseteruan ini memberikan gambaran tentang dinamika politik global yang semakin transaksional. Ketika negara adidaya seperti AS menggunakan tekanan personal dan ekonomi untuk memaksakan kepentingannya, negara-negara menengah seperti Italiaโatau Indonesiaโharus pintar-pintar menjaga kedaulatan tanpa kehilangan akses pasar dan investasi. Kasus Italia juga menunjukkan bahwa aliansi militer seperti NATO tidak selalu menjamin otomatisasi dukungan logistik, terutama jika opini publik dan konstitusi nasional menjadi penghalang.
Trump sendiri tampaknya tidak akan mengendurkan tekanan. Dalam unggahan terbaru, ia mengklaim bahwa Meloni 'ingin berteman lagi' setelah adanya kesepakatan awal gencatan senjata dengan Iran. Namun, dengan kunjungannya ke Turki untuk KTT NATO yang akan datang, ketegangan ini berpotensi kembali mencuat. Pertanyaan besarnya: akankah Eropa tetap bersatu menghadapi gaya diplomasi Trump yang tidak konvensional, atau justru retakan di antara mereka akan semakin melebar?



