Rusia Jamin Pasokan Energi ke Malaysia untuk 20 Tahun ke Depan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Putin berkomitmen memasok minyak, gas, dan solar ke Malaysia selama dua dekade dalam pertemuan di Kazan.
- Kesepakatan ini memperkuat ketahanan energi Malaysia dan membuka peluang ekspor ke pasar Asia Timur.
- Anwar juga menjalin kerja sama dengan Turkmenistan, mengakses dua cadangan gas besar melalui PETRONAS.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan bahwa Rusia telah menyetujui pasokan minyak, gas, dan diesel untuk negaranya dalam jangka waktu minimal 20 tahun ke depan. Komitmen ini disampaikan langsung oleh Presiden Vladimir Putin saat kunjungan Anwar ke Kazan, Rusia, pekan lalu.
Dalam sambutannya pada acara peletakan batu pertama Taman Industri Setia Fontaines di Kepala Batas, Anwar menegaskan bahwa jaminan pasokan energi dari Rusia menandai eratnya hubungan bilateral kedua negara. Ia menyebut bahwa Putin tidak hanya memberikan kepastian pasokan bahan bakar, tetapi juga menyetujui kerja sama jangka panjang yang akan memperkuat keamanan energi Malaysia.
Kunjungan Anwar ke Kazan merupakan bagian dari KTT Peringatan ASEAN-Rusia pada 17-18 Juni lalu. Dari Rusia, ia melanjutkan perjalanan ke Turkmenistan untuk kunjungan resmi dua hari guna menjajaki peluang peningkatan pasokan minyak dan gas bumi. Turkmenistan, yang memiliki salah satu cadangan gas terbesar di dunia, menjadi mitra strategis Malaysia berkat kehadiran PETRONAS selama tiga dekade terakhir.
Menurut Anwar, kesepakatan dengan Turkmenistan telah dirintis sejak kunjungan Presiden Serdar Berdimuhamedov ke Malaysia dua tahun lalu. Dengan akses ke dua cadangan gas Turkmenistan, Malaysia optimistis kebutuhan energinya dapat terpenuhi selama puluhan tahun. "Alhamdulillah, ini memberi kami keyakinan bahwa kebutuhan energi kami dapat dipenuhi untuk beberapa dekade," ujarnya.
Anwar juga menekankan bahwa pengaturan ini dapat meningkatkan kapasitas Malaysia untuk mengekspor energi ke pasar-pasar utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, di mana permintaan masih kuat. Langkah ini dinilai strategis di tengah ketidakpastian pasar energi global dan upaya diversifikasi sumber pasokan.
Di sisi lain, Perdana Menteri mengingatkan agar perusahaan-perusahaan terkait pemerintah dan swasta memastikan proyek-proyek pembangunan memberikan manfaat bagi kelompok menengah dan bawah. Ia khawatir kesenjangan sosial-ekonomi akan melebar jika pembangunan hanya dinikmati segelintir pihak. "Untuk setiap persetujuan yang kami berikan, baik kepada Khazanah, PNB, EPF, atau perusahaan swasta, harus ada peluang bagi kelompok menengah dan bawah," tegasnya.
Anwar juga mendorong kolaborasi erat antara industri, lembaga TVET, dan universitas, termasuk Universitas Sains Malaysia, agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Tanpa tenaga kerja terampil, penciptaan lapangan kerja profesional akan sia-sia. "Teknologi berubah dengan cepat, seringkali dalam satu atau dua tahun. Program pelatihan harus tetap selaras dengan kebutuhan industri dan lembaga pendidikan," pungkasnya.
Ke depan, keberhasilan kesepakatan energi ini akan sangat bergantung pada implementasi teknis dan stabilitas geopolitik. Apakah Malaysia mampu memanfaatkan momentum ini untuk menjadi hub energi regional, atau justru terjebak dalam ketergantungan baru?



