Brasil Menang, Tapi Belum Meyakinkan: Selecao Masih Mencari Identitas di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Brasil mengalahkan Haiti 3-0 di Philadelphia, namun performa di babak kedua menurun drastis dengan nol tembakan tepat sasaran.
- Pelatih Carlo Ancelotti mengakui masih ada pekerjaan rumah, terutama dalam konsistensi permainan sepanjang laga.
- Neymar dipastikan tersedia untuk laga melawan Skotlandia, meski kontroversi pemanggilannya terus menjadi perdebatan.

Kemenangan 3-0 Brasil atas Haiti di Piala Dunia 2026, Kamis (18/6) waktu setempat, meninggalkan tanda tanya besar: kapankah Selecao yang sesungguhnya akan tampil? Di Stadion Philadelphia, dua gol Matheus Cunha dan satu gol Vinicius Jr di babak pertama seolah menghidupkan kembali memori kejayaan masa lalu. Namun, statistik babak kedua yang suram—tanpa satu pun tembakan mengarah ke gawang—membuat publik bertanya-tanya tentang kesiapan tim asuhan Carlo Ancelotti.
Legenda hidup Ronaldinho yang hadir di tribun dan ribuan suporter berseragam kuning yang menari-nari seakan menjadi kontras dengan realitas di lapangan. Haiti, yang berada di peringkat 80+ di bawah Brasil dalam ranking FIFA, justru mampu melepaskan tujuh tembakan di babak kedua berbanding dua milik Brasil. Hasil ini sekaligus memastikan Haiti menjadi tim pertama yang tersingkir dari turnamen.
Brasil kini mengoleksi empat poin dari dua laga Grup C setelah sebelumnya ditahan imbang 1-1 oleh Maroko. Meski lolos ke babak 32 besar sudah di depan mata, performa yang inkonsisten menjadi kekhawatiran serius. Apalagi, rival seperti Argentina dan Prancis sudah menunjukkan permainan impresif di Amerika Serikat.
Dalam konferensi pers usai laga, Ancelotti bersikap defensif. Ia menilai laga melawan Haiti adalah peningkatan dari pertandingan sebelumnya. “Kami jauh lebih baik di babak pertama. Di babak kedua, mereka sedikit lebih menguasai, tapi kami punya peluang untuk mencetak gol lagi. Secara keseluruhan, ini pertandingan yang bagus,” ujar pelatih asal Italia itu. Ia juga menegaskan bahwa timnya tidak boleh terlena dan harus fokus menghadapi Skotlandia di Miami, Rabu mendatang.
Keputusan Ancelotti membawa Neymar ke skuad Piala Dunia menuai sorotan. Penyerang berusia 34 tahun itu belum bermain untuk tim nasional sejak Oktober 2023 dan masih dibekap cedera betis. Ia bahkan tidak ikut ke Philadelphia. Namun, Ancelotti memastikan Neymar akan tersedia untuk laga melawan Skotlandia. “Dia akan berlatih secara individu besok, lalu bersama tim pada Senin. Dia akan siap,” kata Ancelotti.
Pemanggilan Neymar memicu perdebatan di kalangan pengamat. James Horncastle, pakar sepak bola Eropa, percaya Ancelotti mampu mengelola ego para bintang. Namun, Julien Laurens dari Prancis justru meragukan kontribusi Neymar. “Saya rasa dia tidak pantas berada di sana berdasarkan performa terkini dan sikapnya di dalam serta di luar lapangan,” ujar Laurens mengacu pada insiden Neymar menampar rekan setimnya di Santos pada Mei lalu.
Bagi Indonesia, performa Brasil yang belum stabil ini menarik untuk dicermati. Sebagai salah satu tim unggulan, Brasil kerap menjadi tolok ukur kekuatan sepak bola dunia. Jika Selecao gagal tampil maksimal, peluang tim-tim Asia seperti Jepang atau Korea Selatan untuk melaju lebih jauh bisa terbuka. Apalagi, Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya digelar di tiga negara (AS, Meksiko, Kanada), yang bisa mempengaruhi distribusi suporter dan atmosfer pertandingan.
Pertanyaan besarnya: mampukah Ancelotti meramu strategi agar Brasil tidak hanya menang, tapi juga meyakinkan? Atau akankah Neymar menjadi solusi atau justru masalah baru? Laga melawan Skotlandia akan menjadi ujian sesungguhnya.



