Pramono Canangkan Pedestrian Deck Dukuh Atas: Simpul Enam Moda dan Rencana City Check-In
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta memulai pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas yang akan menghubungkan enam moda transportasi, mulai pertengahan 2026 dan ditargetkan rampung pada 2028.
- Gubernur Pramono Anung mengusulkan penambahan fasilitas city check-in dan layanan imigrasi di kawasan tersebut untuk meningkatkan integrasi dengan Kereta Bandara.
- Proyek ini diharapkan menciptakan mobilitas tanpa hambatan (seamless mobility) sekaligus mendorong pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD) di pusat Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi mencanangkan pembangunan pedestrian deck di kawasan Dukuh Atas pada Minggu (21/6), sebuah infrastruktur yang dirancang menjadi titik temu enam moda transportasi publik sekaligus. Tak hanya menjadi penghubung antarmoda, Pramono juga mengusulkan agar kawasan ini dilengkapi fasilitas city check-in dan layanan imigrasi yang terintegrasi dengan Kereta Api Bandara, sebuah langkah yang dinilai dapat merevolusi mobilitas warga Jakarta menuju bandara.
Dalam sambutannya, Pramono mengungkapkan bahwa proyek ini awalnya direncanakan hanya menghubungkan empat moda, namun dalam perkembangannya bertambah menjadi enam. Keenam moda tersebut meliputi KRL Commuter Line, MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan TransJakarta. Dengan adanya pedestrian deck, Pramono meyakini masyarakat dapat berpindah moda tanpa harus terpapar panas atau hujan, menciptakan apa yang disebutnya sebagai seamless mobility.
Usulan city check-in dan imigrasi di Dukuh Atas menjadi sorotan utama. Pramono menilai fasilitas ini akan mempermudah penumpang Kereta Bandara untuk melakukan check-in penerbangan dan pemeriksaan imigrasi sebelum tiba di bandara. Selain itu, Wakil Gubernur Rano Karno juga mengusulkan agar area tersebut menyediakan toko duty free yang menjual produk UMKM, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi kawasan. Pramono menegaskan akan meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk merealisasikan usulan tersebut.
Pramono juga memastikan bahwa Patung Jenderal Sudirman yang menjadi ikon kawasan tidak akan dipindahkan. "Patung Jenderal Sudirman tetap akan di tempat ini. Jadi tidak akan kita geser supaya tidak menjadi polemik," ujarnya. Keputusan ini diambil untuk menghindari kontroversi serupa yang pernah terjadi pada pemindahan patung di Jakarta sebelumnya.
Proyek ini mendapat dukungan dari pemerintah Jepang melalui Ministry of Land, Infrastructure, Transport and Tourism (MLIT) dan Urban Renaissance yang terlibat dalam kajian awal. Keterlibatan Jepang menunjukkan standar internasional yang diterapkan dalam perencanaan infrastruktur ini. Sementara itu, nama resmi pedestrian deck belum ditetapkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menggelar sayembara terbuka untuk menentukan nama, mengingat julukan 'cincin donat' dinilai kurang sesuai.
Kehadiran pedestrian deck Dukuh Atas diharapkan tidak hanya memperkuat integrasi transportasi publik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di sekitarnya. Dengan konsep TOD, kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat aktivitas yang terhubung langsung dengan berbagai moda transportasi. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana realisasi fasilitas city check-in dan imigrasi dapat berjalan tepat waktu, mengingat kompleksitas koordinasi antara pemerintah daerah, operator bandara, dan pihak imigrasi.



