Duel Saudara di Piala Dunia 2026: Ketika Ikatan Darah Terbelah oleh Garis Nasionalisme
Baca dalam 60 detik
- Empat pasang saudara akan memperkuat negara berbeda di Piala Dunia 2026, termasuk Desire dan Guela Doue yang berpotensi saling berhadapan di babak 32 besar.
- Fenomena ini hanya terjadi sekali sebelumnya, yaitu saat Jerome Boateng (Jerman) melawan Kevin Prince Boateng (Ghana) pada 2010 dan 2014.
- Bagi Indonesia, kisah ini relevan dengan diaspora pemain keturunan yang kerap dihadapkan pada pilihan antara tanah leluhur dan negara kelahiran.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tidak hanya menyajikan pertarungan antarnegara, tetapi juga drama personal yang langka: empat pasang saudara kandung akan memperkuat tim nasional yang berbeda. Di antara mereka, nama Desire dan Guela Doue menjadi sorotan utama—dua bersaudara yang bisa saling berhadapan di lapangan hijau untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen.
Desire Doue, gelandang Paris Saint-Germain berusia 21 tahun, memilih membela Prancis, negara kelahirannya. Sementara kakaknya, Guela Doue (23), bek sayap Strasbourg, memutuskan memperkuat Pantai Gading, tanah ayah mereka. Keduanya lahir di Angers, Prancis, dari ibu Prancis dan ayah Pantai Gading. Jika Prancis lolos sebagai runner-up Grup I dan Pantai Gading sebagai runner-up Grup E, mereka akan bertemu di babak 32 besar di Arlington, Texas, pada 30 Juni 2026.
Dalam laga uji coba sebelum turnamen, Pantai Gading mengalahkan Prancis 2-1 pada 4 Juni. Saat itu Guela menyanyikan lagu kebangsaan kedua negara sebelum pertandingan, sementara Desire—yang baru saja memenangkan Liga Champions bersama PSG lima hari sebelumnya—hanya duduk di bangku cadangan. “Sayang sekali saya tidak bisa bermain melawan [saudara saya],” ujar Guela setelah laga. “Ini pertama kalinya Prancis vs Pantai Gading, tapi saya senang, dan dia tidak terlalu kecewa.”
Fenomena saudara kandung yang berlawanan di Piala Dunia hanya terjadi sekali sebelumnya. Pada 2010 di Johannesburg, Jerome Boateng (Jerman) berhadapan dengan kakak tirinya, Kevin Prince Boateng (Ghana). Jerman menang 1-0. Empat tahun kemudian di Brasil, keduanya kembali bertemu dengan hasil imbang 2-2. Kini, Desire dan Guela berpeluang menjadi pasangan kedua yang menorehkan sejarah serupa.
Selain Doue bersaudara, ada tiga pasang lainnya. Inaki Williams (32) membela Ghana, sementara adiknya Nico Williams (23) menjadi pilar Spanyol—keduanya bermain bersama di Athletic Bilbao. Harry Souttar (Australia) dan John Souttar (Skotlandia) juga akan tampil di turnamen yang sama. Sementara itu, Derrick Luckassen (Ghana) dan Brian Brobbey (Belanda) merupakan saudara tiri yang berbagi ibu namun berbeda ayah.
Di sisi lain, ada pula saudara yang justru memperkuat tim yang sama. Tiga pasang lainnya bermain untuk satu negara: Laros dan Deroy Duarte (Cape Verde), Leandro dan Juninho Bacuna (Curacao), serta Lucas dan Theo Hernandez (Prancis). Kisah Duarte bersaudara menjadi salah satu yang paling mengharukan. Laros dan Deroy membantu Cape Verde menahan imbang Spanyol 0-0 di debut Piala Dunia mereka. “Kami melihat orang tua kami menangis,” kata Laros. “Perasaan itu sulit dijelaskan, ini seperti mimpi.”
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki resonansi tersendiri. Banyak pemain keturunan Indonesia di Eropa yang dihadapkan pada pilihan serupa: membela tanah leluhur atau negara kelahiran. Kisah Doue bersaudara menunjukkan bahwa ikatan darah tidak selalu sejalan dengan ikatan kebangsaan, dan pilihan tersebut bisa menjadi beban emosional sekaligus kebanggaan. Ke depannya, mungkin akan lahir lebih banyak lagi pemain diaspora yang menghadapi dilema serupa, terutama dengan makin longgarnya aturan FIFA tentang perubahan kewarganegaraan.
Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung bagi drama kemanusiaan yang jarang terlihat. Akankah Desire dan Guela Doue benar-benar berhadapan? Atau akankah takdir mempertemukan mereka di babak lain? Yang pasti, setiap pertemuan saudara di lapangan hijau akan menjadi tontonan yang tak terlupakan—baik bagi orang tua mereka, maupun bagi jutaan penonton di seluruh dunia.



