Chiellini Kenang Sang Mentor: Igor Protti, Idola yang Jadi Kakak Angkat
Baca dalam 60 detik
- Giorgio Chiellini menyampaikan penghormatan terakhir untuk Igor Protti, legenda Livorno yang meninggal di usia 58 tahun setelah melawan kanker.
- Protti disebut sebagai figur formatif yang membentuk karier Chiellini, baik sebagai kapten idola maupun panutan di luar lapangan.
- Ungkapan duka ini menyoroti ikatan emosional yang langka di sepak bola modern, di mana seorang pemain senior menjadi mentor sejati bagi generasi berikutnya.

Giorgio Chiellini, mantan kapten Juventus yang kini menjabat direktur strategi sepak bola klub tersebut, memberikan penghormatan emosional kepada Igor Protti, mantan striker Livorno yang meninggal dunia pada Kamis lalu di usia 58 tahun setelah berjuang melawan kanker. Dalam unggahan di media sosial, Chiellini menyebut Protti sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam hidup dan kariernya.
Chiellini dan Protti pernah bersama di Livorno, klub tempat Chiellini memulai langkah profesionalnya. Saat itu, Protti adalah kapten dan pencetak gol ulung yang menjadi idola bagi pemain muda seperti Chiellini. โKamu adalah idolaku dan kaptenku. Selama bertahun-tahun, kamu seperti kakak laki-laki yang membuatku tumbuh tanpa sadar,โ tulis Chiellini, dikutip dari TuttoMercatoWeb.
Lebih dari sekadar rekan setim, Protti disebut tetap hadir dalam hidup Chiellini bahkan setelah jalur karier mereka berbeda. โKamu tidak pernah berhenti dekat denganku, lebih sering di saat sulit daripada bahagia. Kamu bisa merasakan dari kejauhan saat aku membutuhkanmu,โ ungkap Chiellini. Ia menambahkan bahwa banyak pilihan dan sikapnya saat ini merupakan warisan dari Protti.
Penghormatan Chiellini ini menyoroti peran penting seorang mentor dalam sepak bola, terutama di level klub kecil seperti Livorno. Di Italia, tradisi pemain senior membimbing junior sangat dijunjung, namun tak selalu bertahan lama. Protti, yang juga dikenal sebagai pencetak gol ulung, meninggalkan jejak tidak hanya di lapangan tetapi juga dalam hati para pemain yang pernah diasuhnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada hubungan serupa antara pemain senior dan junior di klub-klub Tanah Air. Di era di mana sepak bola semakin transaksional, figur seperti Protti menjadi langka. Ia bukan hanya pemain, tetapi juga pembentuk karakter yang mengajarkan nilai-nilai melalui teladan sehari-hari.
Chiellini mengakhiri pesannya dengan ucapan terima kasih yang mendalam: โTerima kasih untuk segalanya, Igor โ untuk apa yang telah kamu berikan dan akan terus menjadi bagian dari diriku.โ Kepergian Protti meninggalkan duka, namun warisannya akan terus hidup melalui mereka yang pernah tersentuh oleh kebaikannya. Pertanyaannya, akankah sepak bola modern masih mampu melahirkan figur seperti Protti di masa depan?



