Fernando Hierro: Tim Spanyol Kini Miliki Karakter Sejati, Siap Pecahkan Kutukan Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Legenda Spanyol Fernando Hierro menilai skuad asuhan Luis de la Fuente memiliki fleksibilitas taktik dan mentalitas dewasa yang sebelumnya kurang pada generasi emas.
- Hierro menyoroti kedewasaan pemain muda seperti Lamine Yamal, Nico Williams, dan Pedri yang bermain tanpa beban namun penuh tanggung jawab.
- Kekompakan tim dan pemahaman mendalam pelatih terhadap pemain menjadi modal utama Spanyol untuk bersaing di Piala Dunia 2026 yang diperluas.

Legenda sepak bola Spanyol, Fernando Hierro, meyakini bahwa tim nasional Spanyol saat ini memiliki karakter dan fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh generasi emas sebelumnya, menjadikan mereka kandidat kuat untuk merebut gelar Piala Dunia 2026. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, mantan bek tengah yang kini berusia 58 tahun itu membandingkan perjalanan Spanyol dari masa ke masa, dari tim yang kerap gagal di fase gugur hingga menjadi juara Eropa di bawah arahan Luis de la Fuente.
Hierro, yang pernah merasakan Piala Dunia sebagai pemain, pelatih, dan ofisial, mengakui bahwa generasinya di era 1990-an selalu berada di ambang kesuksesan namun gagal melewati batas psikologis. "Kami selalu merasa waktu kami akan tiba. Kami mencapai perempat final beberapa kali, tampil gemilang, tetapi tersingkir lewat adu penalti atau gagal memanfaatkan peluang emas," kenangnya. Kini, ia melihat tim Spanyol tidak lagi terbelenggu oleh tekanan sejarah. "Mereka tampil dewasa, tidak peduli usia rata-rata pemain yang muda. Pendekatan mereka terhadap setiap pertandingan sama, tanpa gentar melawan siapa pun."
Kunci transformasi ini, menurut Hierro, terletak pada fleksibilitas taktik dan kohesi tim yang dibangun De la Fuente. Pelatih yang pernah menangani sebagian besar pemain di level junior itu memahami betul karakter anak asuhnya. "Mereka tidak terpaku pada satu gaya bermain. Bisa mengubah formasi, mempercepat atau memperlambat tempo, bermain langsung atau memanfaatkan target man. Ini memberi mereka kepercayaan diri luar biasa," ujar Hierro. Ia menambahkan bahwa kemampuan beradaptasi ini sangat penting dalam turnamen panjang seperti Piala Dunia, di mana skuad 26 pemain harus siap berkontribusi kapan pun.
Hierro secara khusus memuji tiga pemain muda yang menjadi motor permainan Spanyol: Lamine Yamal, Nico Williams, dan Pedri. "Jika Anda tidak tahu usia mereka, Anda tidak akan percaya betapa mudanya mereka. Mereka bermain dengan kebebasan tetapi juga bertanggung jawab. Nico dan Lamine tak kenal takut dalam duel satu lawan satu, sementara Pedri memiliki ritme permainan yang matang—tahu kapan memperlambat, mempercepat, atau membawa bola," paparnya. Menurut Hierro, kombinasi antara keberanian, kreativitas, dan kedewasaan inilah yang membedakan tim saat ini dengan generasi sebelumnya.
Dari sudut pandang pengamat, Hierro melihat bahwa Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) telah bekerja keras membangun filosofi yang konsisten dari akar rumput. "Para pemain ini adalah produk sistem pembinaan usia muda. Mereka dibentuk oleh filosofi bersama, identitas yang jelas, dan pemahaman bersama tentang cara bermain sepak bola," jelasnya. De la Fuente, yang tenang dan paham seluk-beluk federasi, menjadi sosok ideal untuk memimpin generasi ini. "Dari luar, terlihat ada ikatan kuat dalam skuad. Mereka menikmati kebersamaan dan terlihat bersenang-senang. Itu sangat berarti selama Piala Dunia, terutama dengan format yang diperluas," pungkas Hierro.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Spanyol mampu mengatasi rintangan psikologis yang selama ini menghantui—kegagalan di perempat final atau semifinal—dan akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah 2010? Dengan karakter yang dimiliki tim ini, bukan tidak mungkin kutukan itu akan terpecahkan di Amerika Utara pada 2026.



