Latihan Perang Amfibi Jepang-AS: Sinyal Keras untuk Beijing di Laut China Timur
Baca dalam 60 detik
- Pasukan Bela Diri Darat Jepang dan Korps Marinir AS menggelar latihan pertahanan pulau Resolute Dragon di Kyushu dan Okinawa hingga 30 Juni.
- Untuk pertama kalinya, pesawat angkut V-22 Osprey Jepang akan diterbangkan ke Pulau Miyako dalam simulasi evakuasi korban, mempertegas kesiapan menghadapi potensi sengketa wilayah.
- Latihan ini menjadi pesan strategis di tengah meningkatnya insiden pelanggaran perairan oleh kapal China di sekitar Kepulauan Senkaku yang diklaim Beijing.

Pasukan Bela Diri Darat (GSDF) Jepang bersama Korps Marinir Amerika Serikat memulai latihan lapangan Resolute Dragon pada Sabtu (21/6) di wilayah Kyushu dan Okinawa, sebuah pameran kekuatan militer yang berlangsung hingga 30 Juni. Latihan pertahanan pulau ini menjadi sorotan karena dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Timur, di mana kapal-kapal China terus melanggar perairan sekitar Kepulauan Senkaku yang dikuasai Tokyo namun diklaim Beijing.
Untuk pertama kalinya, GSDF akan mengerahkan pesawat angkut V-22 Osprey yang berbasis di Camp Saga menuju Pulau Miyako di Okinawa. Dalam skenario latihan, Osprey akan digunakan untuk mengevakuasi korban dari pulau tersebut ke Pangkalan Udara Korps Marinir Futenma di Pulau Okinawa. Langkah ini menandai perluasan jangkauan operasional V-22, yang sebelumnya hanya digunakan di daratan utama Jepang.
Letnan Jenderal Seiji Toriumi, panglima GSDF Western Army, dalam upacara pembukaan di Camp Kengun, Prefektur Kumamoto, menegaskan bahwa demonstrasi kemampuan pertahanan "sangat penting bagi perdamaian dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik." Pernyataan ini secara implisit merujuk pada aktivitas China yang kian agresif di perairan sekitar Jepang selatan.
Latihan ini juga menjadi ajang uji coba tank Type 10 di Hijudai Training Range, Prefektur Oita. Namun, tank tersebut tidak akan menembakkan meriam utama mereka setelah insiden pada April lalu yang menewaskan atau melukai empat orang saat latihan serupa. Keputusan ini menunjukkan perhatian terhadap keselamatan di tengah tekanan untuk meningkatkan kesiapan tempur.
Bagi Indonesia, latihan ini memiliki relevansi langsung. Sebagai sesama negara kepulauan, Jepang dan Indonesia sama-sama menghadapi tantangan keamanan maritim, termasuk klaim wilayah yang tumpang tindih dan aktivitas penangkapan ikan ilegal. Latihan Resolute Dragon menegaskan pentingnya aliansi strategis dengan kekuatan ekstra-regional seperti AS untuk menjaga stabilitas. Indonesia sendiri tengah memperkuat kerja sama pertahanan dengan Jepang, termasuk melalui transfer teknologi dan latihan bersama. Eskalasi di Laut China Timur dapat menjadi preseden bagi situasi di Laut Natuna Utara, di mana China juga memiliki klaim yang berbenturan dengan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana latihan semacam ini akan memicu respons balik dari Beijing. China selama ini mengecam latihan militer bersama di dekat wilayah yang disengketakan sebagai provokasi. Dengan durasi latihan yang relatif panjang dan penggunaan aset strategis seperti V-22, Resolute Dragon berpotensi meningkatkan ketegangan diplomatik, namun juga memperkuat posisi tawar Jepang dan AS dalam negosiasi maritim di kawasan.



