I.League Pertahankan Kuota 11 Pemain Asing untuk Super League Musim Depan, Aturan Pemain Muda Dirombak
Baca dalam 60 detik
- Kuota pemain asing Super League 2026/2027 tetap 11 per klub, dengan sembilan di daftar susunan pemain dan maksimal tujuh di lapangan.
- Kewajiban memainkan pemain U-23 sebagai starter selama 45 menit dihapus, diganti dengan insentif finansial bagi klub yang memberikan menit bermain signifikan kepada pemain muda.
- Setiap klub Super League wajib memiliki staf kepelatihan lokal, baik sebagai pelatih kepala maupun asisten, untuk memperkuat pembinaan tenaga teknis dalam negeri.

I.League memastikan tidak ada perubahan jumlah pemain asing untuk Super League musim depan. Setiap klub tetap boleh mendaftarkan maksimal sebelas legiun impor, dengan sembilan di antaranya masuk dalam daftar susunan pemain (DSP) dan paling banyak tujuh yang turun ke lapangan. Keputusan ini diambil untuk menjaga daya saing klub Indonesia di turnamen antarklub Asia.
Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, menegaskan bahwa regulasi tersebut sudah berlaku sejak musim lalu dan dianggap efektif. "Pemain asing tetap sama, ada sebelas yang didaftarkan, sembilan di DSP, dan tujuh yang ada di lapangan," ujarnya dalam keterangan resmi. Kebijakan ini sebelumnya dikritik karena dianggap membatasi ruang bagi pemain lokal, namun I.League berdalih bahwa persaingan di level Asia membutuhkan standar kekuatan yang lebih tinggi.
Perubahan signifikan justru terjadi pada aturan pemain muda. Sejak dua musim terakhir, klub diwajibkan memainkan satu pemain U-23 sebagai starter minimal 45 menit per pertandingan. Aturan tersebut kini dihapuskan. Sebagai gantinya, I.League memperkenalkan mekanisme insentif finansial bagi klub yang memberikan menit bermain cukup kepada pemain muda. "Pendaftarannya untuk minimal pemain U-23 itu ada lima pemain, tapi juga akan ada mekanisme insentif kepada klub yang memainkan pemain muda dalam kurun waktu tertentu," jelas Asep.
Formula insentif tersebut, menurut Asep, sudah disiapkan. Klub yang mampu memberikan akumulasi menit bermain kepada pemain U-23 di atas ambang batas tertentu—misalnya 3.000 menit per musim—akan mendapat kontribusi finansial dari I.League. Langkah ini diharapkan tetap mendorong pengembangan pemain muda tanpa memaksakan rotasi yang kaku. "Kami sudah ada formulanya, setelah melewati minimal memainkan, katakanlah 3.000 menit, maka akan ada insentif dalam bentuk kontribusi finansial kepada klub-klub yang memang memberikan kepercayaan kepada para pemain muda tersebut," paparnya.
Selain soal pemain muda, I.League juga mewajibkan setiap klub Super League untuk menyertakan unsur lokal dalam jajaran kepelatihan teknis. Baik sebagai pelatih kepala maupun asisten pelatih, harus ada staf berkebangsaan Indonesia. Aturan ini berlaku mulai musim depan. "Tambahan lainnya mungkin dari sisi ofisial, tidak ada perubahan di pelatih kepala, standarnya sama, AFC Pro atau setara. Tetapi, ada satu catatan bahwa kami sampaikan kepada seluruh klub Super League bahwa di kepelatihan teknis, pelatih atau asisten pelatih, harus ada unsur lokalnya," kata Asep.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya I.League untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sepak bola Indonesia. Dengan memastikan adanya tenaga lokal di posisi kunci, diharapkan transfer pengetahuan dari pelatih asing bisa berlangsung lebih efektif. Namun, implementasi di lapangan masih menjadi tantangan, mengingat tidak semua klub memiliki staf lokal yang memenuhi standar kompetensi.
Ke depan, efektivitas kombinasi antara kuota pemain asing yang longgar, insentif pemain muda, dan kewajiban pelatih lokal akan menjadi ujian bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Akankah klub-klub mampu menyeimbangkan target prestasi instan dengan pembinaan jangka panjang? Atau justru regulasi ini akan memperlebar kesenjangan antara klub kaya dan klub dengan sumber daya terbatas? Hanya musim kompetisi yang akan menjawab.



