Kartu Merah Pertama di Piala Dunia 2026: Almiron Dihukum karena Tutup Mulut
Baca dalam 60 detik
- Miguel Almiron menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah karena menutup mulut saat berbicara dengan lawan, aturan baru yang diterapkan FIFA di Piala Dunia 2026.
- Keputusan wasit dan VAR memicu perdebatan tentang konsistensi penerapan aturan, meskipun pelatih Paraguay menerima hukuman tersebut.
- Insiden ini menyoroti perubahan regulasi yang bertujuan mencegah ucapan tersembunyi, namun berpotensi menimbulkan kontroversi di masa depan.

Gelandang Paraguay, Miguel Almiron, mencatatkan sejarah kelam di Piala Dunia 2026 setelah menjadi pemain pertama yang diusir wasit karena menutup mulut saat berbicara dengan lawan. Insiden terjadi dalam laga Grup C melawan Turki di San Francisco, saat Almiron menutup mulutnya dengan tangan ketika beradu argumen dengan bek Turki, Mert Muldur. Muldur segera melapor ke ofisial, dan setelah pemeriksaan VAR, wasit asal El Salvador, Ivan Barton, mengeluarkan kartu merah tepat sebelum turun minum.
Aturan baru yang melarang pemain menutup mulut saat berbicara dengan lawan mulai diterapkan FIFA pada Piala Dunia kali ini. Keputusan ini diambil dalam sidang International Football Association Board (Ifab) di Vancouver pada April lalu. Presiden FIFA, Gianni Infantino, mendukung kebijakan tersebut dengan alasan bahwa menutup mulut sering digunakan untuk menyembunyikan ucapan rasis atau provokatif. Wasit diberi wewenang penuh untuk menilai situasi dan mengeluarkan kartu merah jika dianggap perlu.
Meskipun kehilangan Almiron sejak babak pertama, Paraguay mampu mempertahankan keunggulan 1-0 hingga akhir laga. Kemenangan ini membuka peluang mereka lolos ke babak 32 besar jika mampu mengalahkan Australia pada laga pamungkas. Pelatih Gustavo Alfaro tidak mempermasalahkan keputusan wasit, bahkan mengakui bahwa Almiron telah meminta maaf kepada rekan setimnya. "Menurut aturan, jika Anda menutup mulut, Anda diusir. Tidak ada yang bisa saya lakukan," ujar Alfaro dalam konferensi pers.
Komentator BBC Radio 5 Live, Clinton Morrison, mendukung keputusan wasit. "Jika Anda tahu aturannya, Anda tidak boleh melakukannya. Wasit dan VAR layak diapresiasi," katanya. Namun, Morrison juga mengakui bahwa tidak semua pihak akan setuju dengan penerapan aturan yang ketat ini. Sebelumnya, kasus serupa terjadi di Liga Champions pada Februari lalu, ketika pemain Benfica, Gianluca Prestianni, menutup mulut saat berbicara dengan Vinicius Jr. Prestianni awalnya dituduh melakukan pelecehan rasial, namun setelah investigasi UEFA, ia dihukum karena perilaku homofobik dan dilarang bermain enam pertandingan.
Bagi Indonesia, aturan ini menjadi pengingat bahwa FIFA terus memperketat regulasi untuk menjaga sportivitas. Meski belum ada pemain Indonesia yang terkena dampak langsung, penerapan aturan serupa di level Asia atau domestik bisa saja terjadi. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) perlu mengantisipasi dengan memberikan edukasi kepada pemain tentang perubahan regulasi ini, terutama menjelang putaran final Piala Dunia U-20 atau turnamen internasional lainnya.
Almiron sendiri sebelumnya juga terlibat kontroversi dalam laga pembuka melawan Amerika Serikat, di mana ia dianggap melakukan diving dan mendapat kartu kuning setelah VAR meninjau ulang. Dua insiden ini menunjukkan bahwa pemain Paraguay tersebut harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Pertanyaan yang muncul: akankah aturan ini benar-benar efektif mencegah ucapan rasis, atau justru menjadi alat subjektif yang disalahgunakan? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pastiโpara pemain kini harus berpikir dua kali sebelum menutup mulut di lapangan.



