BI Rate Naik ke 5,75%, Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.700 per Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5,75% pada RDG 17-18 Juni 2026, total kenaikan 100 bps dalam sebulan.
- Rupiah ditutup menguat 0,17% ke Rp17.700/US$ setelah sempat dibuka melemah 0,62%, didorong keputusan BI yang pro-stabilitas.
- Tekanan eksternal dari dolar AS yang menguat masih membayangi, namun langkah pre-emptive BI dinilai mampu menjaga inflasi dan nilai tukar.

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Juni 2026. Keputusan ini langsung direspons positif oleh pasar: rupiah yang sempat terpuruk di awal perdagangan berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat ke level Rp17.700 per dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,17% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.730/US$. Padahal, pada pembukaan perdagangan Kamis (18/6), rupiah sempat melemah tajam 0,62% ke Rp17.840/US$. Tekanan jual terhadap mata uang Garuda mulai mereda menjelang pengumuman hasil RDG, dan setelah BI mengumumkan kenaikan suku bunga, aliran modal kembali masuk sehingga rupiah berhasil berbalik ke zona hijau.
Kenaikan BI Rate sebesar 25 bps ini merupakan langkah lanjutan dari agresivitas BI dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, pada RDG bulanan Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 50 bps, disusul kenaikan 25 bps pada RDG mingguan pekan lalu. Total, dalam sebulan terakhir BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 bps. Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers menegaskan bahwa langkah ini bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi tetap dalam kisaran sasaran 2,5ยฑ1% pada 2026 dan 2027, serta memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah masih datang dari penguatan dolar AS di pasar global. The Fed pada pertemuan terbarunya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, namun proyeksi kuartalan menunjukkan sembilan pejabat The Fed memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026. Hal ini mendorong indeks dolar AS (DXY) menguat 0,19% ke level 100,281. Meski demikian, kenaikan BI Rate yang agresif dinilai mampu menjadi bantalan bagi rupiah untuk bertahan di tengah dominasi greenback.
Keputusan BI kali ini sejalan dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar. Dalam polling yang dilakukan CNBC Indonesia terhadap 14 institusi, delapan di antaranya memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa BI berkomitmen menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, terutama menjelang potensi kenaikan suku bunga The Fed.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, kenaikan BI Rate ini memberikan kepastian bahwa otoritas moneter akan terus bertindak agresif untuk mengendalikan inflasi dan menopang rupiah. Namun, ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed dan dinamika ekonomi global. Apakah BI akan kembali menaikkan suku bunga pada RDG berikutnya? Jawabannya tergantung pada data inflasi dan tekanan nilai tukar ke depan.



