Dilema Piala Dunia: Pemain Boleh Tinggalkan Tim Demi Kelahiran Anak?
Baca dalam 60 detik
- Ollie Watkins membela keputusan Jeremy Doku yang ingin pulang saat Piala Dunia demi menyaksikan kelahiran anak pertamanya.
- Komentar pedas presenter Perancis yang menyebut persalinan sebagai momen menjijikkan memicu perdebatan tentang prioritas pemain.
- Kasus ini membuka diskusi tentang keseimbangan antara komitmen profesional dan tanggung jawab keluarga di kalangan atlet.

Keputusan pemain sayap Belgia, Jeremy Doku, yang berencana meninggalkan Piala Dunia 2026 demi mendampingi istrinya melahirkan mendapat pembelaan dari striker Inggris, Ollie Watkins. Menurut Watkins, momen kelahiran anak pertama adalah peristiwa yang tak tergantikan dan harus diutamakan di atas kewajiban sepak bola.
Perdebatan ini mencuat setelah presenter televisi L'Equipe, France Pierron, melontarkan kritik keras terhadap Doku. Pierron menyebut persalinan sebagai "momen menjijikkan di mana ayah benar-benar tidak berguna" dan menilai Doku seharusnya tetap bertahan di turnamen. Pernyataan itu memicu reaksi negatif di media sosial, hingga Pierron akhirnya meminta maaf.
Watkins, yang telah memiliki dua anak, menegaskan bahwa melabeli kelahiran sebagai sesuatu yang menjijikkan adalah tindakan yang tidak pantas. "Itu hanya terjadi sekali, anak pertama Anda. Menyambut mereka ke dunia adalah berkah, dan Anda tidak akan mendapatkan kesempatan itu lagi," ujar Watkins. Ia menambahkan bahwa pemain sering kali jauh dari keluarga selama musim kompetisi, sehingga melewatkan momen seperti itu akan sangat berat.
Doku, yang tampil selama 86 menit dalam laga pembuka Belgia melawan Mesir (1-1), mengungkapkan bahwa istrinya, Shireen, diperkirakan melahirkan pada pekan kedua Juli, saat turnamen memasuki babak perempat final. Jika Belgia masih bertahan, ia tetap ingin pulang. Media Belgia melaporkan bahwa kemungkinan akan disediakan jet pribadi untuk membawanya ke Inggris, tempat sang anak akan lahir.
Watkins menilai bahwa pemain sepak bola adalah individu yang sangat beruntung, namun mereka tetap memiliki hak untuk mengambil keputusan pribadi. "Saya pikir itu bukan urusan orang lain. Jika dia pulang dan melakukan itu, saya rasa itu wajar," kata Watkins. Ia bahkan mengaku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Doku.
Kasus Doku bukanlah yang pertama. Sejumlah atlet sebelumnya juga menghadapi dilema serupa, antara memenuhi kontrak profesional dan mendampingi pasangan melahirkan. Di Indonesia, isu ini relevan mengingat banyak atlet nasional yang harus bertanding di luar negeri atau mengikuti pemusatan latihan panjang. Federasi olahraga Indonesia belum memiliki kebijakan eksplisit mengenai cuti melahirkan bagi atlet pria, meskipun kesadaran akan keseimbangan kerja-keluarga semakin meningkat.
Pierron, dalam permintaan maafnya, menyatakan bahwa komentarnya tidak dimaksudkan untuk meremehkan peran ayah. "Saya memahami bahwa perkataan saya mungkin mengejutkan, menyinggung, atau menyakiti beberapa dari Anda, dan saya minta maaf. Niat saya tidak pernah untuk meremehkan tempat atau peran ayah bersama pasangan dan anak-anak mereka," tulisnya di media sosial.
Ke depan, insiden ini bisa menjadi momentum bagi dunia olahraga untuk merumuskan kebijakan yang lebih manusiawi. Apakah federasi sepak bola internasional perlu mengatur cuti ayah dalam turnamen besar? Ataukah keputusan seperti ini sebaiknya diserahkan sepenuhnya kepada individu masing-masing?



