Jeda Hidrasi Piala Dunia 2026: Antara Kebutuhan Atlet dan Sorotan Fans
Baca dalam 60 detik
- Fans di Dallas Stadium mencemooh jeda hidrasi tiga menit saat Inggris vs Kroasia, menilai langkah ini lebih untuk keuntungan iklan.
- Pelatih dan pemain memanfaatkan waktu istirahat untuk strategi dan pemulihan, meski suhu stadion ber-AC dinilai tak memerlukannya.
- FIFA belum memutuskan keberlanjutan kebijakan ini, namun kekhawatiran akan 'Amerikanisasi' sepak bola mulai mengemuka.

Jeda hidrasi yang diterapkan FIFA pada Piala Dunia 2026 di Amerika Utara menuai kontroversi sejak laga perdana. Saat Inggris mengalahkan Kroasia 4-2 di Dallas Stadium, Rabu (18/6), sorak sorai kemenangan bercampur dengan siulan dan cemoohan penonton yang diarahkan bukan pada pemain, melainkan pada waktu istirahat minum yang dianggap mengganggu ritme pertandingan.
Kebijakan ini memberikan dua jeda masing-masing tiga menit per babak, yang secara efektif membagi permainan menjadi empat kuarter. FIFA beralasan langkah ini untuk melindungi pemain dari suhu ekstrem musim panas di Amerika Utara. Namun, banyak suporter menilai motif sebenarnya adalah komersial, karena jeda tersebut dimanfaatkan penyiar untuk menayangkan iklan tambahan.
"Jeda hidrasi jelas untuk satu tujuan: uang besar dari iklan," ujar seorang pendukung Inggris usai pertandingan. "Di stadion ber-AC seperti ini tidak diperlukan, tapi di tempat lain dengan suhu 32 derajat Celsius, itu penting." Sentimen serupa juga terdengar dari suporter Kroasia yang ikut mencemooh. Fenomena ini bukan pertama kali terjadi; pada laga Swedia vs Tunisia dan Spanyol vs Cape Verde, cemoohan serupa juga terdengar.
Di sisi lain, para pelatih dan pemain justru menyambut positif jeda ini. Pelatih Prancis Didier Deschamps menyebutnya sebagai "realitas baru" yang harus diadaptasi. "Ini bukan lagi dua babak, melainkan empat kuarter," katanya. Kiper Inggris Jordan Pickford menilai jeda ini sebagai latihan menghadapi kondisi lebih berat di New York dan Boston. Bek Inggris Nico O'Reilly mengakui jeda berguna untuk menerima instruksi dan minum, meski secara pribadi merasa tidak membutuhkannya.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan sepak bola nasional, kebijakan ini patut dicermati. Meski belum ada rencana penerapan di kompetisi domestik, tren global seperti ini bisa memengaruhi regulasi di masa depan. Apalagi, Indonesia kerap menghadapi cuaca panas dan lembap saat menggelar pertandingan. Jika FIFA menjadikan jeda hidrasi sebagai standar, bukan tidak mungkin PSSI dan AFC akan mengadopsinya untuk turnamen di kawasan tropis.
Kapten Belanda Virgil van Dijk mengakui jeda ini "tidak bagus untuk tontonan TV", namun pemain harus beradaptasi. Sementara itu, FIFA belum memberikan sinyal apakah kebijakan ini akan permanen atau hanya untuk edisi 2026. Sejumlah suporter khawatir langkah ini menjadi awal dari "Amerikanisasi" sepak bola, di mana jeda iklan menjadi bagian tak terpisahkan dari pertandingan. "Saya harap ini tidak menjadi bagian dari sepak bola Inggris karena akan merusaknya," ujar seorang fan.
Pertanyaan besarnya: apakah jeda hidrasi akan bertahan sebagai solusi kesehatan atau justru menjadi celah komersialisasi yang mengubah wajah sepak bola modern? Keputusan FIFA dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi jawabannya.



