Dari Darts ke Piala Dunia: Mengapa Lagu 'Chase the Sun' Bergema di Stadion AS
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 memperkenalkan tradisi baru: setiap tim nasional memiliki lagu khusus yang diputar setiap kali mencetak gol, dengan pilihan beragam dari rock hingga dansa.
- Inggris memilih 'Chase the Sun' milik Planet Funk, lagu yang identik dengan kejuaraan darts, dan langsung disambut antusias oleh suporter di Dallas maupun di rumah.
- Fenomena ini menunjukkan bagaimana sepak bola global mengadopsi elemen budaya populer, membuka peluang bagi Indonesia untuk meniru strategi serupa dalam meningkatkan pengalaman pertandingan.

Lagu 'Chase the Sun' yang biasa menggema di turnamen darts internasional kini menjadi soundtrack kemenangan Inggris di Piala Dunia 2026. Setelah setiap gol yang dicetak Tim Tiga Singa, stadion di Dallas bergemuruh oleh irama elektronik Planet Funk, menandai babak baru dalam tradisi sepak bola global.
Fenomena lagu gol ini bukan sekadar hiburan. Asosiasi sepak bola dari 48 negara peserta diminta memilih dua lagu: satu untuk setiap gol yang dicetak, satu lagi untuk kemenangan. Inggris, misalnya, memadukan 'Chase the Sun' dengan 'Three Lions' sebagai lagu kemenangan. Australia memilih 'Land Down Under' karya Men at Work, sementara Amerika Serikat sebagai tuan rumah menggunakan remix 'Free Bird' dari Lynyrd Skynyrd.
Pilihan lagu kerap mencerminkan identitas budaya. Skotlandia memilih 'I'm Gonna Be (500 Miles)' dari The Proclaimers, lagu yang lekat dengan semangat nasional. Prancis memilih 'One More Time' dari Daft Punk, sementara Jerman memutar 'Major Tom' milik Peter Schilling tujuh kali saat menghancurkan Curacao. Namun, ada juga pilihan yang mengejutkan, seperti Austria yang memilih 'Maria (I Like It Loud)' dari Scooter, atau Swiss yang menggunakan 'Freed From Desire' dari Gala.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang untuk memperkaya pengalaman pertandingan sepak bola nasional. Bayangkan jika timnas Indonesia memiliki lagu gol yang diputar di stadion saat mencetak gol ke gawang lawan. Hal ini tidak hanya meningkatkan atmosfer, tetapi juga memperkuat identitas tim di mata suporter. Klub-klub Eropa seperti Bayern Munich, Chelsea, dan Crystal Palace sudah menerapkan konsep serupa.
Proses pemilihan lagu tergolong sederhana. Asosiasi sepak bola masing-masing negara mengajukan dua nomor. Lagu gol diputar setiap kali tim mencetak gol, sedangkan lagu kemenangan dikumandangkan setelah pertandingan usai jika tim menang. Inggris, misalnya, memilih 'Three Lions' sebagai lagu kemenangan, dan momen ketika para pemain bernyanyi 'Wonderwall' bersama suporter menjadi viral di media sosial.
Namun, tidak semua pilihan berjalan mulus. Beberapa lagu dianggap kurang lazim, seperti pilihan Austria yang menggunakan lagu dansa keras 'Maria (I Like It Loud)'. Meski demikian, variasi ini justru menambah warna dan menunjukkan bahwa sepak bola adalah panggung global yang merangkul beragam genre musik.
Ke depan, tradisi ini berpotensi menjadi standar baru dalam turnamen internasional. Pertanyaannya, akankah Indonesia mengikuti jejak negara-negara lain dengan mengadopsi lagu gol untuk timnas? Dengan basis suporter yang besar dan antusias, bukan tidak mungkin inovasi ini akan disambut hangat di tanah air.



