Gempa Susulan M 4,7 Kembali Guncang Sigi, Total Aftershock Tembus 804 Kali
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi dangkal magnitudo 4,7 melanda Sigi, Sulawesi Tengah, pada Kamis malam, dipicu aktivitas Sesar Sausu.
- Getaran dirasakan di Palu dan Sigi dengan skala intensitas III MMI, tanpa laporan kerusakan berarti.
- BMKG mencatat total 804 gempa susulan pasca gempa utama M 6,7 pada 16 Juni, dengan kekuatan terbesar M 5,3.

Wilayah Sigi, Sulawesi Tengah, kembali diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 pada Kamis (18/6) pukul 20.39 WIB. Guncangan kali ini merupakan rangkaian susulan dari gempa utama magnitudo 6,7 yang terjadi dua hari sebelumnya, dan menjadi pengingat bahwa aktivitas seismik di kawasan tersebut masih tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan episenter gempa berada di darat pada koordinat 1,14 Lintang Selatan dan 120,22 Bujur Timur, tepatnya 56 kilometer timur laut Sigi. Dengan kedalaman hiposenter hanya 5 kilometer, gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa dangkal. Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa penyebabnya adalah aktivitas Sesar Sausu, sesar aktif yang memotong daratan Sulawesi Tengah.
Getaran gempa dirasakan di Kota Palu dan Kabupaten Sigi dengan skala intensitas III MMI (Modified Mercalli Intensity). Pada skala ini, getaran terasa nyata di dalam rumah, seakan-akan ada truk melintas. Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa susulan tersebut.
Gempa magnitudo 4,7 ini hanyalah satu dari ribuan rentetan gempa susulan pasca gempa utama M 6,7 yang mengguncang Sigi pada 16 Juni 2026 pukul 10.27 WIB. Menurut data monitoring BMKG hingga 18 Juni pukul 20.40 WIB, total telah terjadi 804 kali gempa susulan (aftershock). Dari jumlah tersebut, kekuatan terbesar mencapai magnitudo 5,3. Aktivitas seismik yang masih intens ini menjadi perhatian serius bagi warga dan pemerintah setempat.
Konteks kegempaan di Sulawesi Tengah memang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sesar-sesar aktif, termasuk Sesar Sausu dan Sesar Palu-Koro. Sesar Sausu sendiri merupakan salah satu sumber gempa yang kerap memicu guncangan dangkal di wilayah tersebut. Masyarakat di daerah rawan gempa, khususnya di Sigi dan Palu, diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan berikutnya, serta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
BMKG juga mengingatkan agar warga menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa utama, karena rentan ambruk saat terjadi guncangan susulan. Hingga saat ini, belum ada peringatan dini tsunami karena episenter gempa berada di darat dan kekuatannya relatif kecil. Namun, potensi gempa bumi signifikan masih terbuka mengingat akumulasi energi di sepanjang sesar aktif yang belum sepenuhnya terlepas.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: berapa lama lagi rangkaian gempa susulan ini akan berlangsung? Pengalaman gempa besar sebelumnya di Sulawesi menunjukkan bahwa aktivitas aftershock bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama bagi masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi situasi ini.



