Wagyu Jepang Tersandung Tarif di Negeri Paman Sam, Peternak Lokal Gigit Jari
Baca dalam 60 detik
- Meski popularitas Wagyu di AS melonjak, lebih dari 90% daging yang dijual dengan label Wagyu justru berasal dari peternakan lokal Amerika atau Australia, bukan Jepang.
- Tarif impor tinggi sebesar 26,4% setelah kuota murah habis dalam hitungan minggu menjadi batu sandungan utama bagi ekspor daging sapi premium Jepang ke AS.
- Dengan pasar domestik yang menyusut dan biaya produksi membengkak, Jepang berharap negosiasi dagang yang lebih adil bisa membuka keran ekspor Wagyu ke AS.

Di tengah hiruk-pikuk restoran steak kelas atas di Amerika Serikat, nama Wagyu telah menjadi magnet tersendiri. Namun, di balik popularitas yang meroket itu, tersimpan ironi: sebagian besar daging yang dijual sebagai Wagyu di Negeri Paman Sam justru berasal dari peternakan lokal atau Australia, bukan dari Jepang. Padahal, definisi Wagyu versi Negeri Sakura sangat ketat—hanya sapi dari empat ras murni yang lahir dan dibesarkan di Jepang yang berhak menyandang status tersebut.
Fenomena ini bermula dari ekspor genetik sapi Jepang yang legal pada era 1970-an hingga 1990-an, sebelum aturan ketat diberlakukan. Keturunan sapi-sapi itu kemudian disilangkan dengan sapi Angus dan jenis lain di Amerika, melahirkan apa yang kini dipasarkan sebagai 'American Wagyu'. Untuk melindungi reputasi, industri peternakan AS bahkan meluncurkan sistem sertifikasi bersama USDA pada 2025 guna membedakan Wagyu 'asli' Amerika dari produk impor.
Meski demikian, permintaan akan A5 Wagyu—kelas marmer tertinggi—terus menggeliat. Data pemerintah Jepang menunjukkan ekspor daging sapi ke AS melonjak lebih dari dua kali lipat pada 2021 menjadi 1.178 ton metrik, dan bertahan di level tersebut hingga kini. Takashi Ono, Ketua Japan Meat Grading Association, memuji tekstur lembut yang meleleh di mulut sebagai keunggulan utama Wagyu asli Jepang.
Namun, angka itu masih bagaikan setetes air di lautan. Menurut Philip Seng, seorang promotor Wagyu di AS, pangsa Wagyu Jepang kurang dari satu persen dari total impor daging sapi Amerika. Penyebab utamanya adalah tarif. Dalam perjanjian dagang Jepang-AS yang berlaku sejak 2020, Jepang mendapat jatah kuota impor dengan tarif rendah. Tapi, membanjirnya impor daging sapi Brasil—yang sanksi ekspornya ke AS dicabut pada tahun yang sama—membuat kuota tersebut habis pada Januari setiap tahun. Begitu kuota terlampaui, tarif 26,4 persen langsung berlaku, membuat harga Wagyu Jepang semakin tidak kompetitif.
Di sisi lain, peternak Jepang menghadapi tekanan ganda: pasar domestik yang menyusut akibat rendahnya angka kelahiran, serta biaya produksi yang terus meroket. Pemerintah Jepang pun gencar mendorong ekspor Wagyu sebagai jurus penyelamat. Seng menekankan bahwa Jepang juga mengimpor daging sapi dan pakan biji-bijian dalam jumlah besar dari AS, sehingga perdagangan yang saling menguntungkan seharusnya menjadi prioritas kedua negara.
Namun, dalam negosiasi dagang, Jepang kerap berada di posisi defensif, terutama di bawah ancaman tarif tinggi dari pemerintahan Donald Trump. Para pelaku industri berharap lobi berkelanjutan dari sektor publik dan swasta bisa melunakkan hambatan tersebut. Pertanyaannya, mampukah Wagyu Jepang menembus tembok tarif dan merebut hati konsumen Amerika yang haus akan daging premium? Atau justru 'American Wagyu' yang akan terus mendominasi panggung?



