Tuchel Buka Babak Baru: Inggris Menang 4-2 atas Kroasia, Hibur Tapi Bikin Khawatir
Baca dalam 60 detik
- Thomas Tuchel memulai debut Piala Dunia bersama Inggris dengan kemenangan 4-2 atas Kroasia, menampilkan permainan menyerang yang atraktif namun rentan di lini belakang.
- Kapten Harry Kane mencetak dua gol, menyamai rekor Gary Lineker sebagai pencetak gol terbanyak Inggris di Piala Dunia dengan 10 gol.
- Keputusan berani Tuchel menarik gelandang bertahan dan memasukkan pemain penyerang di menit akhir menunjukkan pendekatan ofensif yang kontras dengan era Gareth Southgate.

Kemenangan perdana Inggris di Piala Dunia 2026, 4-2 atas Kroasia, menjadi pertanda perubahan gaya bermain yang drastis di bawah asuhan Thomas Tuchel—menghibur sekaligus mengkhawatirkan. Jika era Gareth Southgate dikenal dengan pendekatan hati-hati yang membawa Inggris ke final Euro 2024 dan perempat final Piala Dunia 2022, Tuchel justru membuka keran serangan tanpa malu-malu. Namun, lubang di pertahanan yang nyaris membuat Kroasia bangkit dua kali menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan.
Pertandingan di Dallas Stadium, Sabtu (14/6) dini hari WIB, langsung menyajikan drama. Inggris unggul dua kali melalui Harry Kane, namun Kroasia selalu mampu menyamakan kedudukan. Babak pertama menjadi mimpi buruk bagi lini belakang Inggris, terutama setelah bek Aston Villa Ezri Konsa—yang dipilih menggantikan Marc Guehi—tampil kurang meyakinkan. Tuchel tak bisa menyembunyikan kekesalannya di pinggir lapangan saat melihat pertahanan timnya begitu mudah ditembus.
Namun, babak kedua menjadi milik Inggris. Jude Bellingham, yang dipilih sebagai starter mengungguli Morgan Rogers, menjadi motor serangan dengan gol spektakuler hanya beberapa menit setelah jeda. Gol itu mengubah ritme permainan. Kroasia tertekan dan nyaris tak berkutik menghadapi gelombang serangan Inggris. Marcus Rashford, yang masuk sebagai pemain pengganti, memastikan kemenangan di menit akhir.
Keputusan Tuchel melakukan tiga pergantian ofensif saat Inggris hanya unggul satu gol menuai pujian dari para pengamat. Mantan striker Inggris Wayne Rooney, yang menjadi komentator BBC, menyebut langkah itu berani dan menunjukkan niat untuk memenangkan pertandingan, bukan sekadar mempertahankan keunggulan. “Saya suka substitusi itu. Jika Anda bertahan dan menunggu Kroasia menyerang, itu akan membuat gugup. Ini berani dan menunjukkan dia ingin memenangkan pertandingan,” ujar Rooney. Mantan kiper Inggris Paul Robinson menambahkan bahwa pemain pengganti memberikan dampak langsung dan memberi Tuchel “sakit kepala” positif untuk laga selanjutnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, gaya bermain Inggris yang terbuka ini layak disimak. Timnas Indonesia sendiri kerap menghadapi lawan-lawan yang mengandalkan serangan balik cepat di level Asia. Pelajaran dari laga ini adalah bahwa keseimbangan antara menyerang dan bertahan tetap krusial. Jika Inggris mampu memperbaiki organisasi pertahanan, mereka bisa menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan. Namun, jika tidak, lawan-lahan seperti Brasil atau Argentina di fase gugur bisa memanfaatkan celah tersebut.
Tuchel, yang sejak awal menargetkan “bintang kedua di kostum” Inggris, jelas tidak berniat bermain aman. Strategi ofensifnya mengingatkan pada pendekatan Jerman saat memenangkan Piala Dunia 2014. Namun, jalan masih panjang. Inggris akan menghadapi Ghana di Boston pada Selasa (17/6) untuk memperkuat posisi di Grup L. Pertanyaan besarnya: mampukah Tuchel memperbaiki pertahanan tanpa mengorbankan daya gedor yang baru ditemukan?



