John Herdman: Lolos ke Piala Dunia 2030 adalah Obsesi yang Akan Mengubah Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Timnas Indonesia John Herdman menyatakan target utama skuad Garuda adalah tampil di Piala Dunia 2030, didukung penuh Presiden Prabowo.
- Herdman menyebut 280 juta penduduk Indonesia sebagai alasan di balik ambisi tersebut, dan menganggap lolos ke Piala Dunia sebagai titik balik sepak bola nasional.
- Pengalaman Herdman membawa Kanada ke Piala Dunia 2022 menjadi modal, meski saat itu ia gagal melaju dari fase grup.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, secara terbuka menyatakan bahwa dirinya terobsesi untuk membawa Garuda tampil di Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Maroko, Portugal, dan Spanyol. Ambisi ini, menurutnya, bukan sekadar target pribadi, melainkan sebuah misi yang akan mengubah wajah sepak bola Indonesia secara fundamental.
Pernyataan itu disampaikan Herdman setelah dipanggil oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Jumat, 19 Juni 2026. Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Dalam kesempatan itu, Herdman mengaku mendapat dukungan penuh dari kepala negara untuk mewujudkan target lolos ke putaran final Piala Dunia.
โSaya pikir Presiden sangat bersemangat terhadap sepak bola. Beliau sama seperti seluruh rakyat Indonesia,โ ujar Herdman dalam kanal YouTube Sekretariat Presiden. โSaya selalu mengatakan bahwa kami memiliki 280 juta alasan, dan beliau adalah salah satunya.โ
Bagi Herdman, lolos ke Piala Dunia bukan hanya prestasi olahraga, melainkan katalis perubahan sosial dan ekonomi. โSemua yang kami lakukan, setiap hari ketika kami bangun, kami terobsesi dengan target lolos tersebut karena hal itu akan mengubah segalanya di negara kami untuk selamanya,โ tegasnya. Kalimat ini menggambarkan betapa besarnya harapan yang ia sandarkan pada pencapaian tersebut.
Pengalaman Herdman membawa Timnas Kanada ke Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi modal berharga. Meski saat itu Kanada tersingkir di fase grup setelah kalah di tiga pertandingan, ia memahami betul apa yang diperlukan untuk bersaing di level tertinggi. Kini, ia mencoba menerapkan pelajaran tersebut untuk Indonesia, yang notabene memiliki basis penggemar lebih besar dan potensi pemain yang terus berkembang.
Konteks domestik menjadi penting: Indonesia belum pernah merasakan tampil di Piala Dunia. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, sepak bola adalah olahraga paling populer, namun prestasi tim nasional masih jauh dari harapan. Dukungan Presiden Prabowo dan PSSI di bawah Erick Thohir diharapkan mampu mempercepat transformasi sepak bola Indonesia, mulai dari pembinaan usia muda hingga kualitas kompetisi lokal.
Namun, jalan menuju Piala Dunia 2030 tidaklah mudah. Indonesia harus bersaing dengan negara-negara Asia lainnya yang sudah lebih mapan, seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Arab Saudi. Herdman sadar bahwa obsesi saja tidak cukup; diperlukan kerja keras, perencanaan matang, dan dukungan semua pihak.
Pertanyaan besarnya: bisakah Herdman mengulang suksesnya bersama Kanada, atau bahkan melampauinya, dengan membawa Indonesia tidak hanya lolos tetapi juga kompetitif di Piala Dunia? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa tahun ke depan, saat kualifikasi zona Asia bergulir.



