Piala Dunia 2026: Kejutan, Istirahat Minum, dan Tiket Mahal Mewarnai Pekan Pembuka
Baca dalam 60 detik
- Pekan pertama Piala Dunia 2026 menyajikan 75 gol dan sejumlah kejutan, termasuk hasil imbang Brasil dan Spanyol melawan tim non-unggulan.
- Istirahat minum (hydration break) yang dirancang untuk mengatasi panas justru dimanfaatkan pelatih untuk instruksi taktik, memicu kontroversi.
- Kebijakan tiket dinamis FIFA menuai kritik, namun tingkat okupansi stadion dilaporkan di atas 99%.

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada memasuki pekan pertama dengan 75 gol tercipta dari 48 pertandingan, namun yang paling menonjol bukan sekadar jumlah gol, melainkan sederet kejutan yang mengguncang peta kekuatan tradisional. Tim-tim besar Eropa dan Amerika Selatan yang mendominasi peringkat FIFA harus mengakui ketangguhan negara-negara yang sebelumnya dianggap 'kecil'.
Spanyol, juara Eropa bertahan, hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan debutan Cape Verde—negara terkecil ketiga yang pernah lolos ke Piala Dunia. Brasil dan Uruguay juga ditahan imbang oleh Maroko dan Swiss, sementara Portugal nyaris kehilangan poin saat ditahan Republik Demokratik Kongo. Kinerja impresif juga ditunjukkan negara-negara Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC): Australia dan Korea Selatan meraih kemenangan, Jepang menahan Belanda, serta Qatar dan Arab Saudi mengamankan hasil imbang.
Pelatih timnas wanita Amerika Serikat, Emma Hayes, menilai format ekspansi yang mempertemukan 48 tim justru memicu performa terbaik dari tim-tim underdog. "Banyak perbincangan tentang perluasan, tapi Anda bisa lihat ini memunculkan yang terbaik dari setiap tim," ujarnya kepada ITV. Meski demikian, fase grup baru sepertiga berjalan, dan dengan 32 dari 48 tim lolos ke babak berikutnya, raksasa sepak bola masih punya ruang untuk bangkit.
Salah satu isu yang paling hangat diperbincangkan adalah istirahat minum (hydration break) yang diwajibkan wasit di tengah setiap babak. Kebijakan yang dirancang untuk melindungi pemain dari cuaca ekstrem ini justru dikeluhkan karena disalahgunakan pelatih untuk menyampaikan instruksi taktik. Manajer AS, Mauricio Pochettino, menyebut jeda tiga menit itu "tidak perlu" saat kondisi tidak terlalu panas. Sementara kapten Belanda Virgil van Dijk menilai gangguan tersebut mengganggu ritme pertandingan dan membuat frustrasi penonton.
Fenomena ini terlihat jelas saat Brasil tertinggal 0-1 dari Maroko. Begitu jeda minum tiba, pelatih Carlo Ancelotti memberikan arahan baru, dan kurang dari 20 menit kemudian Vinicius Jr menyamakan kedudukan. Ancelotti mengakui jeda tersebut membantu timnya menguasai permainan. Meskipun menuai kritik, istirahat minum tampaknya akan tetap menjadi bagian dari turnamen ini.
Kebijakan tiket FIFA juga menjadi sorotan. Sistem harga dinamis yang kontroversial dan alokasi terbatas untuk suporter tim peserta sempat memicu kekhawatiran akan stadion yang kosong. Pada laga Korea Selatan vs Republik Ceko, terlihat banyak kursi kosong, namun FIFA mengklaim para penggemar sedang berada di area concourse. Menurut data resmi, tingkat okupansi stadion mencapai 99% lebih. Meski harga tiket tergolong mahal, antusiasme publik di tiga negara tuan rumah tetap tinggi.
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 menjadi tontonan yang sarat pelajaran. Kejutan demi kejutan membuktikan bahwa sepak bola tidak lagi didominasi negara-negara tertentu—sebuah sinyal bahwa Timnas Indonesia, jika terus berkembang, bukan tidak mungkin suatu hari bisa bersaing di panggung terbesar. Selain itu, kontroversi istirahat minum dan tiket mengingatkan bahwa penyelenggaraan turnamen sebesar ini membutuhkan keseimbangan antara aspek teknis, komersial, dan kenyamanan penonton.
Pekan depan akan menjadi ujian sesungguhnya: mampukah tim-tim besar bangkit, atau akankah kejutan terus berlanjut? Satu hal pasti, Piala Dunia 2026 telah membuktikan bahwa format baru ini justru menghadirkan drama yang tak terduga.



