Putin Sebut Rusia dan Malaysia Makin Erat, Perdagangan Naik 12,9%
Baca dalam 60 detik
- Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan hubungan bilateral dengan Malaysia semakin solid menjelang 60 tahun diplomatik, dengan pertumbuhan perdagangan dua digit.
- Putin mengapresiasi dukungan Kuala Lumpur terhadap kemitraan strategis Rusia-ASEAN, yang pertama kali digagas dalam KTT di Malaysia pada 2005.
- Kerja sama mencakup bidang ekonomi, pendidikan, sains, dan pariwisata, membuka peluang bagi negara-negara ASEAN lain termasuk Indonesia.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa hubungan Rusia dan Malaysia berada dalam posisi yang sangat baik untuk terus diperkuat, seiring kedua negara bersiap merayakan 60 tahun hubungan diplomatik pada tahun depan. Pernyataan itu disampaikan Putin dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di sela-sela KTT Peringatan ASEAN-Rusia di Kazan, Rusia.
Putin menekankan bahwa Moskow dan Kuala Lumpur telah membangun fondasi kerja sama yang kokoh, ditandai dengan peningkatan perdagangan bilateral sebesar 12,9 persen sepanjang 2025. "Angka ini merupakan hasil yang baik," ujar Putin, seraya menambahkan bahwa Rusia juga memberi perhatian besar pada kerja sama di bidang pendidikan, sains dan teknologi, pariwisata, serta hubungan kemanusiaan.
Dalam kesempatan itu, Putin menyambut baik dukungan Malaysia terhadap pengembangan kemitraan strategis antara Rusia dan ASEAN. Ia mengingatkan bahwa KTT tingkat tinggi pertama antara Rusia dan ASEAN justru digelar di Malaysia pada 2005. "Tahun lalu Malaysia menjadi ketua ASEAN, dan kami menyambut bahwa Malaysia terus mendukung pengembangan kemitraan strategis pertama antara Rusia dan ASEAN," kata Putin.
Menurut Putin, hubungan kedua negara selama ini selalu didasari prinsip saling menghormati dan mempertimbangkan kepentingan masing-masing. Ia juga menyebut Malaysia sebagai mitra global jangka panjang Rusia. Pertemuan di Kazan merupakan kelanjutan dari komunikasi reguler yang sudah terjalin melalui kementerian, lembaga, dan parlemen kedua negara, serta komisi antarpemerintah untuk kerja sama ekonomi, ilmiah, teknis, dan budaya.
Bagi Indonesia, penguatan hubungan Rusia-Malaysia ini menjadi sinyal penting di tengah dinamika geopolitik kawasan. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperluas kerja sama dengan Rusia, terutama di sektor perdagangan dan investasi yang selama ini belum optimal. Apalagi, Rusia tengah mencari mitra di Asia Tenggara untuk mengimbangi pengaruh negara-negara Barat.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana Indonesia akan merespons peluang ini. Dengan pendekatan yang lebih proaktif, bukan tidak mungkin Jakarta bisa meniru langkah Malaysia yang berhasil meningkatkan volume perdagangan secara signifikan dengan Rusia dalam satu tahun terakhir.



