Mal dan Kafe Tetap Ramai di Tengah Ekonomi Lesu: Antara Gaya Hidup dan Jerat Pengeluaran Kecil
Baca dalam 60 detik
- Rupiah menyentuh rekor terendah Rp18.000 per dolar AS dan harga BBM naik, namun pusat perbelanjaan serta kafe di perkotaan masih dipadati pengunjung.
- Fenomena ini bukan sekadar lipstick effect, melainkan akibat kaburnya batas antara kebutuhan dan gaya hidup, diperkuat bias psikologis seperti mental accounting dan present bias.
- Tanpa kesadaran akan akumulasi pengeluaran kecil—mulai dari kopi harian hingga langganan digital—kondisi finansial rumah tangga bisa tergerus di tengah tekanan ekonomi.

Di tengah pelemahan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026 dan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, pemandangan di mal-mal dan kafe-kafe kota besar justru tak berubah: tetap ramai pengunjung seolah tak ada krisis. Kontradiksi ini memunculkan pertanyaan, mengapa daya beli masyarakat seolah tak tergerus meski beban ekonomi rumah tangga kian berat?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan proporsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan meningkat dari 48,68% pada 2016 menjadi 50,77% pada 2025. Artinya, separuh lebih anggaran keluarga kini tersedot untuk kebutuhan pangan. Namun di sisi lain, pengeluaran untuk kopi kekinian, langganan platform streaming, hingga biaya olahraga seperti padel terus mengalir. Sekat antara kebutuhan pokok dan gaya hidup semakin tipis, didorong oleh tren digitalisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat urban.
Fenomena ini tidak bisa semata-mata dijelaskan dengan lipstick effect—kecenderungan membeli barang mewah kecil saat ekonomi sulit. Lebih dari itu, masyarakat modern dihadapkan pada sederet pengeluaran baru yang dianggap wajib: paket data, biaya langganan Netflix, Spotify, hingga aplikasi produktivitas. Padahal, tidak semuanya esensial. Ekonom perilaku menyebut fenomena ini sebagai mental accounting, di mana setiap pengeluaran dinilai secara terpisah sehingga dampak kumulatifnya luput dari kesadaran.
Kebiasaan membeli kopi Rp20.000 per hari, misalnya, jika diakumulasi dalam sebulan mencapai Rp600.000 dan setahun Rp7,2 juta—jumlah yang cukup signifikan untuk ditabung. Namun, godaan kepuasan instan (present bias) dan kemudahan pembayaran digital yang menghilangkan rasa sakit saat membayar (pain of paying) membuat pengeluaran kecil terasa ringan. Akibatnya, banyak orang lebih memprioritaskan tagihan hiburan digital ketimbang investasi pengembangan diri seperti kursus berbayar.
Kondisi ini diperparah oleh pergeseran pola konsumsi makanan. Hasil Susenas 2026 mencatat, porsi belanja makanan jadi mencapai 32,51% dari total pengeluaran pangan, meningkat 3,46% dibanding satu dekade lalu. Layanan pesan-antar daring kian mempermudah kebiasaan makan di luar atau memesan makanan siap saji, yang secara langsung menggerus anggaran rumah tangga.
Menurut analis ekonomi perilaku, solusi justru bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang sama. Mengganti kopi kedai dengan seduhan sendiri, membawa tumbler, dan membawa bekal dari rumah adalah langkah sederhana namun efektif mengurangi pengeluaran. Selain itu, mengevaluasi langganan layanan digital yang tidak terpakai secara optimal—seperti cloud storage atau aplikasi AI—juga bisa menekan biaya bulanan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah mencari cara berhemat, melainkan menyadari bahwa setiap keputusan kecil hari ini—yang tampak sepele—akan menentukan ketahanan finansial di masa depan. Di tengah ketidakpastian ekonomi, kesadaran akan akumulasi pengeluaran menjadi kunci agar rumah tangga tidak terjebak dalam ilusi bahwa segalanya baik-baik saja.



