Inflasi Afrika Selatan Tembus 4,5% di Tengah Tekanan Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Tingkat inflasi tahunan Afrika Selatan naik ke 4,5% pada Mei, tertinggi dalam hampir dua tahun, dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
- Bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada Mei, dengan pertemuan kebijakan berikutnya dijadwalkan pada 23 Juli.
- Kenaikan harga energi global berpotensi mempengaruhi negara importir seperti Indonesia, yang perlu mewaspadai dampak inflasi impor dan tekanan pada nilai tukar.

Laju inflasi tahunan Afrika Selatan melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua tahun pada Mei 2025, mencapai 4,5 persen. Kenaikan ini terutama didorong oleh meroketnya harga energi yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Badan Statistik Afrika Selatan (Stats SA) yang berbasis di Pretoria merilis data pada Rabu (18/6) yang menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (IHK) naik dari 4,0 persen pada April. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,7 persen, lebih rendah dibandingkan 1,1 persen pada bulan sebelumnya. Meskipun ada perlambatan bulanan, tren tahunan tetap mengkhawatirkan karena mendekati batas atas target bank sentral.
Bank Sentral Afrika Selatan (SARB) menargetkan inflasi pada kisaran 3 hingga 6 persen, dengan titik ideal di 4,5 persen. Artinya, angka Mei masih dalam batas toleransi, namun tekanan harga energi yang terus berlanjut dapat mendorong inflasi lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Pada pertemuan kebijakan moneter terakhir di bulan Mei, SARB menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, menandakan sikap hati-hati terhadap risiko inflasi.
Kenaikan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada Afrika Selatan, tetapi juga negara-negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia. Sebagai importir minyak mentah, Indonesia rentan terhadap guncangan harga energi yang dapat mendorong inflasi domestik melalui kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi. Bank Indonesia perlu mewaspadai efek limpahan ini dalam menentukan arah suku bunga ke depan.
Menurut analis ekonomi, kenaikan inflasi Afrika Selatan mencerminkan kerentanan negara berkembang terhadap gejolak geopolitik global. โKonflik Iran-Israel telah mengganggu rantai pasok energi, mendorong harga minyak dan gas naik signifikan. Negara seperti Afrika Selatan dan Indonesia yang bergantung pada impor energi harus bersiap menghadapi tekanan inflasi yang lebih persisten,โ ujar seorang ekonom dari lembaga riset independen di Johannesburg.
Pertemuan kebijakan SARB berikutnya pada 23 Juli akan menjadi momen krusial. Jika inflasi terus meningkat, bank sentral mungkin akan menaikkan suku bunga lagi, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, jika tekanan harga mereda, SARB dapat mempertahankan suku bunga untuk mendukung pemulihan. Pertanyaannya, seberapa cepat dampak konflik Timur Tengah akan mereda dan apakah negara-negara berkembang mampu bertahan tanpa kebijakan protektif yang lebih ketat?



