Jakarta Darurat Kucing Liar: 1,5 Juta Ekor Ancam Keseimbangan Kota
Baca dalam 60 detik
- Populasi kucing liar di Jakarta diperkirakan mencapai 1,5 juta ekor, setara satu kucing per sepuluh warga, tanpa lembaga pemerintah yang menangani kesejahteraan hewan domestik.
- Pemerintah kota baru mensterilkan 21.000 ekor pada 2025, jauh dari target 70% populasi, sementara anggaran Rp3,5 miliar dinilai tidak mencukupi.
- Kesadaran warga dan komunitas mulai tumbuh, namun tanpa kebijakan masif, ledakan populasi kucing liar berpotensi memicu masalah kesehatan dan lingkungan.

Jakarta menghadapi krisis populasi kucing liar yang tak terkendali: dengan perkiraan 1,5 juta ekor berkeliaran di jalanan, ibu kota Indonesia ini menjadi salah satu kota dengan konsentrasi kucing jalanan tertinggi di dunia. Tanpa adanya dinas khusus yang menangani kesejahteraan hewan domestik, jumlah mereka terus bertambah secara eksponensial, memicu dilema antara kasih sayang warga dan beban perkotaan.
Kucing-kucing ini hidup di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta, bergantung pada belas kasihan manusia untuk makanan dan perawatan. Bagi sebagian pedagang seperti Saiful Faizin (33), kucing adalah penghibur yang menetralisir aura negatif. Namun, tidak semua warga senang: bau urine, suara ribut saat kawin, dan kerusakan properti seperti jok motor tergores menjadi keluhan umum. Meski Jakarta dinyatakan bebas rabies sejak 2004 berkat vaksinasi massal, kucing tetap bisa menularkan parasit atau penyakit lain ke manusia.
Kepala Dinas Pertanian Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengakui bahwa pendanaan yang ada tidak sebanding dengan kebutuhan. Untuk mencapai ambang batas pengendalian populasi, setidaknya 70 persen kucing liar harus disterilisasi. Namun, fasilitas shelter, dokter hewan, dan paramedis sangat terbatas. Pemerintah kota saat ini tengah melakukan sensus pertama secara ilmiah untuk mendapatkan data akurat, mengingat estimasi sebelumnya sangat bervariasiโdari 305.000 ekor menurut satu pejabat, hingga lima kali lipatnya menurut pejabat lain.
Upaya sterilisasi menjadi senjata utama. Politikus Francine Widjojo, yang memelihara 27 kucing, menekankan bahwa satu kucing betina bisa melahirkan 3โ4 kali setahun dengan 4โ8 anak per kelahiran. Artinya, setiap ekor yang disterilkan bisa mencegah puluhan kelahiran baru. Meski program pemerintah gratis, banyak warga dan pegiat kini mulai membiayai sterilisasi secara mandiri. Carolina Fajar dari LSM Let's Adopt Indonesia mengingatkan bahwa memberi makan tanpa sterilisasi justru memperparah ledakan populasi.
Faktor budaya turut berperan. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, kucing dihormati karena dicintai Nabi Muhammad, tidak seperti anjing yang dianggap najis. Hal ini mendorong warga memberi makan kucing liar, namun tanpa diimbangi sterilisasi, niat baik itu menjadi bumerang. Di stasiun Dukuh Atas, pemandangan wanita memberi makan kucing dari kantong plastik kecil adalah hal biasaโsimbol kasih sayang yang kini harus diimbangi dengan kebijakan pengendalian populasi yang lebih agresif.
Pertanyaan besarnya: mampukah Jakarta menyeimbangkan tradisi dan kebutuhan perkotaan? Tanpa terobosan pendanaan dan kesadaran massal, krisis ini bukan hanya soal kucing, melainkan cerminan tantangan tata kelola kota yang belum ramah terhadap semua makhluk hidup.


