Populasi Lansia Tembus 34 Juta, Bisnis Senior Living Kian Menjanjikan
Baca dalam 60 detik
- Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 34,19 juta jiwa pada 2025, setara 10% dari total populasi, dan diproyeksikan melonjak menjadi 60 juta jiwa.
- PT Rukun Sahabat Senior menggarap peluang bisnis perumahan dan layanan terpadu bagi lansia, dengan fokus pada hunian, kesehatan, dan digitalisasi.
- Pertumbuhan ageing population mendorong prospek bisnis senior living, namun tantangan seperti regulasi dan daya beli masih perlu diantisipasi.

Fenomena ageing population di Indonesia mulai menjadi peluang bisnis yang serius. Dengan jumlah penduduk lanjut usia yang mencapai 34,19 juta jiwa pada 2025 atau sekitar 10 persen dari total populasi, kebutuhan akan hunian dan layanan khusus bagi lansia terus meningkat. PT Rukun Sahabat Senior, salah satu pemain di sektor ini, optimistis permintaan akan terus tumbuh seiring proyeksi jumlah lansia yang diperkirakan menyentuh 60 juta jiwa dalam beberapa tahun mendatang.
Direktur PT Rukun Sahabat Senior, Emir Fachry, mengungkapkan bahwa perusahaannya tidak hanya menyediakan hunian, tetapi juga layanan kesehatan dan fasilitas berbasis digital untuk mendukung lansia tetap aktif dan produktif. "Kami ingin lansia tidak sekadar tinggal, tapi juga bisa menikmati hidup dengan layanan yang terintegrasi," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia. Pendekatan ini membedakan senior living dari panti jompo konvensional yang kerap identik dengan isolasi.
Bisnis senior living di Indonesia masih tergolong baru, namun potensinya besar. Menurut data Badan Pusat Statistik, proporsi lansia terus meningkat seiring dengan peningkatan angka harapan hidup. Hal ini mendorong permintaan akan hunian yang ramah lansia, layanan perawatan jangka panjang, serta aktivitas sosial yang terstruktur. Rukun Sahabat Senior menawarkan konsep komunitas yang memungkinkan lansia berinteraksi dan tetap mandiri dengan dukungan teknologi, seperti sistem pemantauan kesehatan jarak jauh dan aplikasi mobilitas.
Namun, tantangan tetap ada. Daya beli masyarakat Indonesia yang masih timpang menjadi kendala utama. Tidak semua keluarga mampu membiayai hunian dan perawatan lansia yang berkualitas. Selain itu, regulasi terkait standar pelayanan dan insentif bagi pengembang senior living masih perlu diperjelas. Emir Fachry menekankan pentingnya dukungan pemerintah, baik dalam bentuk kebijakan fiskal maupun kemudahan perizinan, agar sektor ini bisa berkembang optimal.
Di tengah gejolak ekonomi global, bisnis senior living justru menunjukkan ketahanan. Kebutuhan akan tempat tinggal dan perawatan lansia bersifat inelastis, sehingga permintaan cenderung stabil. Para analis memperkirakan bahwa dengan populasi lansia yang terus bertambah, sektor ini akan menjadi salah satu primadona investasi properti dan layanan kesehatan di Indonesia dalam satu dekade mendatang. Pertanyaannya, apakah para pemangku kepentingan siap beradaptasi dengan perubahan demografis ini?


