Kisah Anggun dan Dua Anakan Kucing Kuwuk: Niat Baik yang Berujung Pelajaran Konservasi
Baca dalam 60 detik
- Warga Pacitan mengembalikan dua anakan kucing kuwuk ke hutan setelah menyadari kesulitan merawat satwa liar dilindungi.
- Induk kucing kuwuk diduga datang setiap malam mencari anaknya, mendorong keputusan pengembalian ke habitat asli.
- Pakar konservasi menekankan bahwa kucing kuwuk adalah spesies adaptif yang tetap membutuhkan habitat alami untuk bertahan.

Niat baik seorang warga Pacitan untuk menyelamatkan dua anakan kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) justru menjadi pengingat bahwa campur tangan manusia terhadap satwa liar tidak selalu tepat. Anggun (30), warga Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, akhirnya mengembalikan kedua anak kucing hutan tersebut ke lokasi penemuan setelah dua hari merawatnya di rumah.
Peristiwa bermula saat suami Anggun mencari rumput di hutan rakyat dekat desa. Ia menemukan dua anak kucing yang tampak telantar dan membawanya pulang karena khawatir. Namun, kesulitan memberi pakan yang sesuai dan dugaan bahwa induk kucing datang setiap malam mencari anaknya membuat keluarga Anggun sadar bahwa memelihara satwa liar bukanlah pilihan tepat. โSetelah kejadian itu, paginya mereka kembalikan ke lokasi ditemukan,โ ujar Ganes Pramudito, Kepala Resort Konservasi Wilayah Ponorogo-Pacitan BBKSDA Jawa Timur, Kamis (11/6/2026).
Kucing kuwuk merupakan spesies dilindungi yang menghadapi ancaman penyempitan habitat. Meski kerap dianggap sebagai hama, satwa ini berperan penting sebagai pengendali populasi tikus di ekosistem pertanian. Ganes menegaskan bahwa warga yang menemukan satwa liar sebaiknya melapor ke petugas, bukan membawanya pulang. โPeluang hidupnya jauh lebih besar bersama induknya di habitat alami dibandingkan dipelihara manusia,โ katanya.
Kasus ini bukan yang pertama terjadi di Pacitan. Ganes mencatat, tiga tahun lalu ada laporan serupa di daerah yang sama, dan kucing tersebut berhasil dilepasliarkan kembali. Selain kucing kuwuk, petugas lebih sering menerima laporan tentang trenggiling (Manis javanica) yang masuk ke permukiman. Fenomena ini menunjukkan bahwa bentang alam Pacitan masih menyediakan habitat bagi berbagai satwa liar, namun tekanan aktivitas manusia semakin mendekatkan mereka ke pemukiman.
Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, menjelaskan bahwa kucing kuwuk termasuk spesies kucing liar yang paling adaptif terhadap perubahan habitat. โKucing hutan salah satu yang paling resilien terhadap habitat yang termodifikasi,โ katanya. Menurut Erwin, satwa ini tidak selalu bergantung pada hutan alam utuh; mereka bisa memanfaatkan hutan rakyat, kebun, hingga lahan pertanian selama masih ada tutupan vegetasi dan sumber pakan. Namun, ia mengingatkan bahwa tepi hutan tetap menjadi area penting untuk melahirkan dan membesarkan anak, sekaligus menghindari perilaku kanibalisme dari jantan dewasa.
Kembalinya dua anakan kucing kuwuk ke habitatnya menjadi bukti bahwa kesadaran masyarakat terhadap konservasi mulai tumbuh. Meski demikian, Ganes menggarisbawahi perlunya edukasi berkelanjutan agar warga tidak langsung mengambil satwa liar yang ditemukan. โPeran masyarakat jadi sangat penting dalam upaya konservasi,โ ujarnya. Ke depan, BBKSDA berencana memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa untuk merespons cepat laporan satwa liar, sekaligus mengidentifikasi kawasan hutan lindung Perhutani Dadapan sebagai habitat potensial bagi kucing kuwuk dan spesies lain seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Pertanyaannya, mampukah kesadaran individu seperti Anggun menjadi gerakan kolektif menjaga keseimbangan alam di tengah desakan pembangunan?


