Jamu Tak Lagi Sekadar Minuman Tradisional: Menekraf Targetkan Pusat Wellness Dunia
Baca dalam 60 detik
- Menteri Ekonomi Kreatif mendorong jamu sebagai produk kekayaan intelektual bernilai tambah tinggi untuk bersaing di pasar global.
- Transformasi jamu dari minuman herbal menjadi bagian gaya hidup modern membuka peluang di kafe, hotel, hingga wisata wellness.
- Pemerintah menggandeng Dewan Jamu Indonesia dalam JICE 2026 untuk memperkuat ekspor, investasi, dan lapangan kerja.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa jamu, yang selama ini dikenal sebagai warisan leluhur, kini menjelma menjadi instrumen ekonomi kreatif yang mampu mendongkrak daya saing Indonesia di pentas global. Dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (15/6/2026), ia menyebut produk berbasis jamu bukan sekadar minuman tradisional, melainkan aset intelektual yang jika dikelola dengan tepat dapat menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan.
Menurut Riefky, jamu telah bertransformasi mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat modern. Kini, jamu tidak hanya ditemukan di warung tradisional, tetapi juga merambah kafe kekinian, hotel berbintang, pusat perbelanjaan, hingga destinasi wisata yang mengusung konsep wellness. Pergeseran ini, lanjutnya, membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk memperluas pangsa pasar, baik domestik maupun internasional.
โJamu harus terus berkembang melalui penguatan brand, IP, dan hak kekayaan intelektualnya, sehingga memiliki nilai tambah dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi seluruh ekosistemnya,โ ujar Riefky. Ia menambahkan bahwa penguatan storytelling, branding, promosi, networking, akses pasar, dan pendanaan menjadi kunci untuk mendorong pelaku usaha jamu agar mampu bersaing di tingkat global.
Riefky optimistis Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pusat industri wellness dunia. Kekayaan rempah-rempah, tradisi pengobatan herbal, dan budaya menjaga kesehatan yang diwariskan secara turun-temurun menjadi fondasi yang tak dimiliki banyak negara. โTantangannya adalah bagaimana mengemas potensi tersebut secara profesional melalui kolaborasi yang melibatkan pelaku usaha, akademisi, media, asosiasi, dan institusi keuangan agar mampu bersaing di pasar global,โ jelasnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan Dewan Jamu Indonesia. Salah satu langkah konkret adalah penyelenggaraan Jamu International Conference and Expo (JICE) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. Acara ini diharapkan menjadi ajang promosi sekaligus memperkuat posisi jamu Indonesia di mata dunia.
Bagi pelaku usaha jamu di Indonesia, langkah pemerintah ini menjadi angin segar. Dengan dukungan penguatan merek dan hak kekayaan intelektual, produk jamu lokal tidak hanya bersaing di pasar domestik, tetapi juga berpeluang menembus pasar ekspor. Selain itu, pengembangan subsektor wellness diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.
Ke depan, keberhasilan jamu sebagai produk unggulan ekonomi kreatif akan sangat bergantung pada konsistensi kolaborasi dan inovasi. Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk benar-benar menjadi pusat wellness dunia, atau justru akan kembali terjebak dalam pengelolaan tradisional yang kurang kompetitif?



