Permainan Kartu TB: Jurus Baru Edukasi Kesehatan di Papua yang Menjanjikan
Baca dalam 60 detik
- Hanya 40% dari 40.000 kasus tuberkulosis di Papua terdeteksi pada 2025, jauh dari target nasional 90%.
- Permainan kartu TB yang dirancang dengan bahasa sederhana dan ikon minim berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat, termasuk kelompok dengan literasi rendah.
- Pemerintah didorong mengadopsi metode game-based learning untuk edukasi TB di daerah terpencil guna menekan angka penularan.

Di tengah rendahnya deteksi tuberkulosis di Tanah Papua yang hanya mencapai 40 persen dari perkiraan 40 ribu kasus pada 2025, sebuah inovasi edukasi berbasis permainan kartu mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Metode ini dirancang untuk menjangkau masyarakat dengan tingkat literasi beragam, mengatasi hambatan bahasa dan pendidikan yang selama ini menjadi batu sandungan dalam pengendalian TB di wilayah timur Indonesia.
Angka deteksi yang masih jauh di bawah target nasional 90 persen itu berarti sekitar 24 ribu orang dengan TB tidak terdiagnosis dan berpotensi menularkan penyakit. Kemiskinan, kondisi geografis yang sulit, serta minimnya literasi kesehatan menjadi faktor utama yang membuat warga enggan berobat atau putus obat. Dalam situasi seperti ini, pendekatan konvensional seperti penyuluhan kesehatan seringkali kurang efektif.
Ludenara bersama UNICEF Indonesia dan Tim Kerja Tuberkulosis Indonesia kemudian mengembangkan permainan kartu TB. Studi pendahuluan yang dilakukan di Bandung dan Manokwari selama Februari hingga Mei 2025 melibatkan siswa SMP, mahasiswa kedokteran, kader kesehatan, dan petugas puskesmas. Hasilnya, sebagian besar peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang gejala, faktor risiko, cara pencegahan, dan pentingnya pengobatan TB.
Permainan ini dimainkan secara beregu, mirip kartu kwartet, dengan misi mengumpulkan empat kartu pencegahan untuk menyelamatkan karakter dari TB. Setiap kartu berisi informasi tentang gejala, risiko, dan pencegahan. Jika pemain mendapatkan kartu gejala atau risiko, karakter harus diperiksa dan menjalani pengobatan selama beberapa ronde. Tim yang berhasil menyembuhkan semua karakter dinyatakan sebagai pemenang. Dengan cara ini, pemain belajar alur penanganan TBโdari pencegahan hingga pengobatanโsecara interaktif.
Edo, seorang siswa SMP di Manokwari, mengaku baru memahami bahwa perokok aktif maupun pasif sama-sama berisiko tinggi tertular TB karena rokok melemahkan kekebalan paru. Sementara Leoni, peserta lain, terkejut mengetahui bahwa TB bisa menyebabkan penurunan berat badan drastis. Para peserta juga termotivasi untuk berdiskusi dan membagikan informasi kepada teman-temannya.
Dari sisi fasilitator, mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan merasa lebih percaya diri menggunakan permainan sebagai media edukasi. Keterlibatan guru dan pemimpin masyarakat dinilai dapat memperkuat pesan kesehatan. Temuan ini sejalan dengan meta-analisis terhadap 54 studi yang menunjukkan bahwa game-based learning efektif meningkatkan pengetahuan dan perilaku sehat lintas gender. Penelitian sebelumnya di Bandung (2021) juga membuktikan bahwa permainan papan Gastronot mampu meningkatkan pemahaman gizi anak secara signifikan.
Keberhasilan metode ini membuka peluang untuk diterapkan di daerah terpencil lain dengan tenaga kesehatan terbatas. Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, permainan Carpe Diem telah berhasil meningkatkan kesadaran dan mengurangi stigma remaja terhadap masalah kesehatan mental. Pemerintah kini didorong untuk mengintegrasikan edukasi TB berbasis permainan di Papua dan wilayah terluar lainnya. Pertanyaannya, seberapa cepat kebijakan ini dapat direalisasikan untuk mengejar target eliminasi TB 2030?



