CT Scan Picu Kanker? Fakta di Balik Risiko Radiasi yang Perlu Diketahui
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru memperkirakan CT scan di AS pada 2023 dapat memicu lebih dari 100 ribu kasus kanker di masa depan, tiga kali lipat dari estimasi 2009.
- Hingga kini belum ada bukti langsung bahwa radiasi dosis rendah dari CT scan menyebabkan kanker pada manusia, menurut American College of Radiology.
- Prinsip ALARA dan teknologi terbaru seperti photon-counting CT terus dikembangkan untuk menekan dosis radiasi tanpa mengorbankan kualitas diagnosis.

CT scan, teknologi pencitraan medis yang mengandalkan sinar-X dan komputer untuk menghasilkan gambar tiga dimensi organ dalam, kembali menjadi sorotan setelah sebuah studi memproyeksikan risikonya memicu lebih dari 100 ribu kasus kanker di masa depan. Namun, klaim ini tidak serta-merta berarti setiap pasien yang menjalani pemindaian otomatis berpotensi terkena kanker—fakta ilmiahnya jauh lebih kompleks.
Penelitian yang dimuat dalam JAMA Internal Medicine itu memperkirakan dampak penggunaan CT scan di Amerika Serikat sepanjang 2023. Angka tersebut tiga kali lipat lebih besar dibandingkan analisis serupa pada 2009 yang hanya memprediksi 29 ribu kasus. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa estimasi tersebut berasal dari model statistik, bukan observasi langsung terhadap pasien yang benar-benar mengalami kanker akibat CT scan.
CT scan menggunakan radiasi pengion dengan dosis 5–7 milisievert (mSv), jauh lebih tinggi dibandingkan rontgen biasa yang hanya 0,1–0,2 mSv. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa paparan radiasi dosis tinggi dapat merusak DNA dan meningkatkan risiko kanker. Namun, perdebatan masih berlangsung di kalangan ilmuwan mengenai apakah radiasi dosis rendah seperti yang dipakai dalam CT scan cukup signifikan untuk memicu kanker pada manusia.
Di Indonesia, penggunaan CT scan terus meningkat seiring dengan kemajuan fasilitas kesehatan. Rumah sakit rujukan di kota-kota besar kini rata-rata memiliki alat CT scan, dan permintaan pemeriksaan ini naik drastis, terutama untuk kasus stroke, cedera kepala, dan nyeri perut akut. Sayangnya, kesadaran akan risiko radiasi dan prinsip kehati-hatian belum merata di kalangan tenaga kesehatan dan pasien.
Anak-anak menjadi perhatian khusus karena kerentanan mereka terhadap radiasi. Organ dan jaringan yang masih tumbuh, ditambah dengan rentang waktu hidup yang lebih panjang, memberi peluang lebih besar bagi efek samping jangka panjang. Namun, proporsi pemindaian pada anak relatif kecil—kurang dari 10% dari total prosedur CT scan—sehingga secara absolut, orang dewasa tetap menyumbang jumlah kasus potensial terbanyak.
Untuk menekan risiko, dunia kedokteran menerapkan prinsip ALARA (as low as reasonably achievable), yaitu menggunakan dosis radiasi serendah mungkin tanpa mengorbankan kualitas diagnosis. Konsep ini kemudian diperhalus menjadi ALADAIP yang menekankan bahwa setiap pemeriksaan harus disesuaikan dengan indikasi klinis dan karakteristik pasien. Dokter juga mulai beralih ke modalitas nonradiasi seperti USG atau MRI jika memungkinkan.
Inovasi teknologi turut berperan. Generasi terbaru CT scan, yaitu photon-counting CT, mampu menghasilkan gambar lebih detail dengan dosis radiasi yang lebih rendah. Alat ini mulai diperkenalkan di beberapa rumah sakit besar di Indonesia, meskipun biaya pengadaannya masih tinggi.
Keputusan untuk menjalani CT scan harus selalu berdasarkan pertimbangan manfaat-risiko. Dalam kondisi darurat seperti dugaan stroke atau perdarahan internal, manfaat diagnosis cepat dan akurat jauh melampaui potensi bahaya radiasi. Sebaliknya, pemindaian yang tidak perlu—misalnya untuk skrining rutin tanpa indikasi jelas—sebaiknya dihindari.
Ke depan, tantangan bagi sistem kesehatan Indonesia adalah memastikan setiap penggunaan CT scan sesuai pedoman, memperkuat edukasi tentang risiko radiasi kepada tenaga medis dan pasien, serta memperluas akses terhadap teknologi alternatif yang lebih aman. Apakah kesadaran ini akan mendorong perubahan praktik di lapangan, atau justru kekhawatiran berlebihan yang menghambat diagnosis tepat waktu?



