BNPB Pastikan Ancaman Likuefaksi Pasca-Gempa Sulteng 6,7 Telah Berlalu
Baca dalam 60 detik
- BNPB mengonfirmasi potensi likuefaksi akibat gempa M6,7 di Sulteng sudah tidak ada karena fenomena tersebut hanya terjadi saat guncangan utama.
- Gempa susulan terus menurun frekuensi dan intensitasnya, memperkuat kepastian tidak adanya likuefaksi lanjutan.
- Longsor dilaporkan di Sigi dan Poso, namun titiknya jauh dari pemukiman; BNPB masih melakukan verifikasi dampak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan bahwa ancaman likuefaksi akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) telah berlalu. Kepastian ini disampaikan setelah otoritas kebencanaan mencermati pola gempa susulan yang terus melemah, sekaligus menepis kekhawatiran publik akan terulangnya bencana serupa seperti yang terjadi di Palu pada 2018.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6), menjelaskan bahwa likuefaksi—fenomena tanah berubah menjadi lumpur akibat guncangan yang mengaduk lapisan tanah dengan air tanah—hanya terjadi saat gempa utama atau gempa dengan kekuatan signifikan. “Potensi likuefaksi saat ini sudah lewat. Karena likuefaksi ini biasanya terjadi pada saat gempa utama terjadi atau gempa dengan kekuatan cukup signifikan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tren gempa susulan yang terjadi kini mulai menurun, baik dari segi intensitas maupun frekuensi, sehingga memperkuat kesimpulan bahwa tidak ada lagi risiko likuefaksi.
Meski ancaman likuefaksi telah berlalu, BNPB masih memantau dampak lain dari gempa tersebut. Abdul Muhari melaporkan bahwa gempa bumi memicu longsor di wilayah Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso. Namun, berdasarkan laporan visual awal, titik longsoran berada cukup jauh dari permukiman warga. “Ini akan kita konfirmasi apakah dampaknya secara langsung ada yang berdampak pada masyarakat atau tidak,” tuturnya. Tim di lapangan masih melakukan verifikasi untuk memastikan tidak ada korban atau kerusakan berarti akibat longsor tersebut.
Gempa bumi ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gempa dahsyat tahun 2018 yang meluluhlantakkan Palu dan sekitarnya. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam konferensi pers daring, menjelaskan bahwa gempa kali ini diakibatkan oleh aktivitas Sesar Sausu, bukan Sesar Palu-Koro seperti pada 2018. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu,” ujarnya. Perbedaan sumber gempa ini menjadi faktor penting mengapa potensi likuefaksi tidak sebesar peristiwa lima tahun lalu.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah, kepastian dari BNPB ini memberikan sedikit kelegaan. Namun, peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi dan dampak ikutannya. Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa efektif sistem peringatan dini dan mitigasi bencana di daerah-daerah rawan gempa seperti Sulawesi Tengah, terutama mengingat perbedaan karakteristik sesar yang dapat memicu bencana dengan pola yang tidak selalu sama.



