Penjualan Kondominium Thailand ke Asing Anjlok, Isyarat Perlambatan Ekonomi Regional
Baca dalam 60 detik
- Transaksi kondominium milik asing di Thailand turun 17,3% secara tahunan pada kuartal I-2026, mencerminkan pelemahan daya beli global.
- Nilai transfer properti merosot 17,9% menjadi 13,46 miliar baht, dengan pangsa pasar asing menyusut terhadap pembeli lokal.
- Penurunan ini menjadi sinyal bagi pasar properti Indonesia untuk mewaspadai dampak perlambatan ekonomi kawasan terhadap minat investor asing.

Bangkok — Alih kepemilikan kondominium di Thailand oleh warga negara asing mengalami penurunan signifikan pada tiga bulan pertama 2026, baik dari segi volume maupun nilai, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data resmi yang dirilis Selasa (16/6) menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi domestik dan global menjadi faktor utama di balik sikap hati-hati para pembeli.
Menurut Pusat Informasi Real Estat (REIC) di bawah Bank Perumahan Pemerintah Thailand, total unit kondominium yang beralih kepemilikan ke tangan asing pada Januari–Maret 2026 tercatat sebanyak 3.241 unit. Angka ini menyusut 17,3 persen secara tahunan (year-on-year). Nilai transaksi pun ikut tertekan, turun 17,9 persen menjadi 13,46 miliar baht (setara sekitar 411 juta dolar AS). Sementara itu, luas lantai yang dialihkan merosot 13,8 persen menjadi 141.644 meter persegi.
Penurunan ini tidak hanya terjadi pada angka absolut. Pangsa pasar pembeli asing terhadap pembeli lokal juga menyempit. Pada kuartal pertama 2026, proporsi kepemilikan asing dalam hal volume unit hanya 13,6 persen, sementara dalam hal nilai total menyusut menjadi 23,9 persen. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa daya tarik properti Thailand di mata investor asing mulai meredup di tengah ketidakpastian ekonomi global.
REIC menilai bahwa perlambatan ekonomi di dalam negeri Thailand dan mitra dagang utama, ditambah dengan ketidakpastian geopolitik, telah mendorong calon pembeli asing untuk menunda atau membatalkan rencana investasi properti. Tren ini sejalan dengan pola serupa yang terlihat di beberapa negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia, di mana pasar properti premium juga mulai menunjukkan tanda-tanda koreksi.
Bagi Indonesia, penurunan minat asing terhadap properti Thailand bisa menjadi pelajaran berharga. Pasar properti nasional, khususnya di segmen apartemen dan kondominium di Jakarta, Bali, dan kota besar lainnya, juga bergantung pada permintaan dari investor asing, terutama dari China, Jepang, dan Korea Selatan. Jika perlambatan ekonomi global berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami tekanan serupa. Regulator dan pengembang perlu mengantisipasi dengan memperkuat permintaan domestik serta menawarkan insentif yang kompetitif.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah penurunan ini bersifat siklis atau struktural. Jika faktor ekonomi global membaik, permintaan asing mungkin pulih. Namun, jika perubahan preferensi atau kebijakan properti di negara asal investor menjadi permanen, pasar Thailand—dan mungkin juga Indonesia—harus mencari strategi baru untuk mempertahankan daya tarik investasi properti.



