Memoar Charles Spencer Guncang Istana: Raja Charles Dituduh 'Girang' Usai Diana Tewas
Baca dalam 60 detik
- Charles Spencer mengklaim Raja Charles terdengar 'girang seperti pemenang lotre' saat meneleponnya setelah kematian Putri Diana pada 31 Agustus 1997.
- Memoar 'Swan Song: Diana, My Sister' juga mengungkap dugaan pernyataan kasar Charles tentang berat badan Diana dan upayanya membatalkan pertunangan.
- Istana Buckingham merilis pernyataan langka yang menyebut kesedihan dapat 'mengaburkan ingatan', sementara buku ini akan terbit 22 September.

Adik mendiang Putri Diana, Charles Spencer, melontarkan tuduhan mengejutkan terhadap Raja Charles dalam memoarnya yang akan terbit 22 September mendatang. Dalam buku berjudul Swan Song: Diana, My Sister, Earl Spencer ke-9 itu mengklaim bahwa Raja Charles—yang saat itu masih Pangeran Wales—terdengar "girang seperti pemenang lotre" ketika meneleponnya tak lama setelah Diana tewas dalam kecelakaan mobil di terowongan Pont de l'Alma, Paris, pada 31 Agustus 1997.
Kecelakaan tragis itu juga merenggut nyawa kekasih Diana, produser film Dodi Fayed (42), dan sopir mereka, Henri Paul (41). Menurut Spencer, teleponnya "berdering tanpa henti" pasca-insiden tersebut. Namun, panggilan dari Charles—yang kini berusia 77 tahun—dinilainya berbeda dari pelayat lain yang syok dan sulit berkata-kata. Spencer menulis bahwa Charles menyampaikan kabar duka itu dengan nada "sangat datar" dan memberi tahu bahwa ia telah mengabarkan berita tersebut kepada Pangeran William dan Pangeran Harry di kamar mereka di Balmoral pagi itu.
Dalam kutipan buku yang dimuat Daily Mail, Spencer menduga reaksi Charles saat itu lebih didorong oleh pemikiran bahwa peristiwa tersebut membebaskannya untuk menikahi Camilla Parker Bowles—yang kini menjadi Ratu Camilla—daripada rasa kehilangan. "Sulit untuk bersimpati terlalu dalam pada mantan pasangan, atau mereka yang sangat peduli padanya, setelah perceraian yang pahit," tulisnya.
Memoar ini juga mengungkap sejumlah klaim kontroversial lain. Spencer menyebut bahwa menjelang pernikahan Diana dan Charles di Katedral St. Paul pada 29 Juli 1981, Diana diberi tahu oleh seorang teman dekat bahwa Charles "sangat bahagia menikahinya, tetapi tidak benar-benar mencintainya". Informasi itu disebut sebagai "pukulan telak" yang membuat Diana yakin bahwa Charles memasuki pernikahan dengan hati yang tertuju pada orang lain. Menurut Spencer, Diana sempat berusaha membatalkan pertunangan setelah menemukan gelang yang dibeli Charles untuk Camilla, namun ayahnya, John Spencer, Earl Spencer ke-8, menolak ide tersebut karena dianggap tidak mungkin mundur dari komitmen besar itu.
Klaim lain yang tak kalah menyakitkan: beberapa hari setelah pertunangan diumumkan pada 24 Februari 1981, Charles diduga meremas pinggang Diana dan berkata, "Oh, agak gemuk di sini, ya?" Spencer menyatakan bahwa Diana saat itu sedang bergulat dengan gangguan makan, dan berat pinggangnya menyusut dari 29 inci menjadi 23,5 inci antara pertunangan dan pernikahan. Spencer juga meyakini Diana mengalami ADHD dan Rejection Sensitive Dysphoria, seperti dirinya.
"Saya menduga reaksi pertama sang pangeran adalah memikirkan bagaimana peristiwa ini bisa membebaskannya untuk menikahi wanita yang dicintainya, bukan merasakan kehilangan sosok yang tidak ia cintai." — Charles Spencer dalam memoarnya.
Buku ini juga menyoroti momen menjelang pemakaman Diana pada 6 September 1997. Spencer mengklaim bahwa pihak istana sempat berdebat tentang siapa yang harus berjalan di belakang peti jenazah. Charles dikatakan "bersikeras" ingin ikut, tetapi panitia pemakaman khawatir publik akan meneriakinya jika ia berjalan sendirian. Akhirnya, mereka menyimpulkan bahwa membujuk Spencer dan kedua putra Diana—William (15) dan Harry (12)—untuk berjalan bersamanya "akan menjamin tidak ada hinaan yang terlontar".
Sehari sebelum tuduhan tersebut, Spencer juga mengklaim bahwa beberapa hari setelah kematian Diana, Charles mendesiskan, "Tenang saja, kita akan segera melupakannya!" Menurut Spencer, ia dan Charles terlibat adu mulut saat membahas apakah William dan Harry harus ikut dalam prosesi pemakaman. Setelah Charles menyebut dirinya pernah berjalan di pemakaman Lord Mountbatten pada 1979, Spencer menunjukkan bahwa saat itu Charles berusia 30 tahun, dan klaimnya membuat sang pangeran "marah besar".
Menanggapi tuduhan ini, juru bicara Raja Charles mengeluarkan pernyataan langka: "Meskipun kami tidak mengomentari buku sebagai prinsip, Yang Mulia menyadari bahwa rasa sakit karena kehilangan saudara dapat mengaburkan nalar, memengaruhi penilaian, dan mewarnai ingatan dengan cara yang tidak dikenali orang lain, bahkan bertahun-tahun setelah kehilangan itu."
Bagi publik Indonesia, kisah ini bukan sekadar drama istana. Fenomena memoar yang mengungkap sisi gelap keluarga kerajaan menunjukkan bagaimana narasi sejarah bisa dibentuk ulang oleh mereka yang berada di lingkaran dalam. Di era media sosial, di mana setiap klaim bisa viral dalam hitungan jam, konsumen berita dituntut lebih kritis: mana yang fakta, mana yang interpretasi personal? Terlebih, buku ini akan dirilis tepat menjelang musim libur akhir tahun, saat perhatian global mulai teralih pada isu lain. Apakah tuduhan Spencer akan mengguncang monarki Inggris secara permanen, atau hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah panjang Dinasti Windsor?



