Petenis Prancis Corentin Moutet Dilaporkan ke ATP Usai Mengumpat 7 Kali di Wawancara Langsung BBC
Baca dalam 60 detik
- Corentin Moutet mengeluarkan tujuh kata makian dalam wawancara langsung BBC setelah kemenangan di Queen's, memicu teguran presenter.
- Petenis peringkat 36 dunia itu berpotensi didenda ATP karena insiden tersebut, memperpanjang catatan buruknya dalam pengendalian emosi.
- Kasus ini menjadi pengingat akan tantangan pengelolaan perilaku pemain di tengah sorotan media global, relevan bagi pengembangan mental atlet Indonesia.

Petenis asal Prancis, Corentin Moutet, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan tujuh kata makian dalam sebuah wawancara langsung di BBC usai pertandingan turnamen Queen's Club, London. Insiden yang terjadi pada Selasa (18/6) itu membuat presenter Jenny Drummond dan Clare Balding harus meminta maaf kepada pemirsa, sementara Moutet kini terancam sanksi dari ATP Tour.
Moutet, yang baru saja mengalahkan rekan senegaranya Giovanni Mpetshi Perricard dalam laga tiga set yang berlangsung dua hari (6-7, 6-4, 7-6), pertama kali mengumpat saat menggambarkan perasaannya ketika lawannya menyelamatkan match point dengan servis kedua berkecepatan 142 mph. Ketika Drummond memintanya untuk tidak mengulangi kata tersebut, Moutet justru mengucapkannya tiga kali lagi. Wawancara akhirnya dihentikan paksa setelah pemain berusia 27 tahun itu kembali mengumpat tiga kali saat presenter berusaha melanjutkan obrolan.
Menanggapi video sensor insiden tersebut yang beredar di Instagram, Moutet menulis, "Saya hanya bercanda, saya harap kalian tidak tersinggung. Terima kasih atas cintanya." Namun, pernyataan itu tidak meredakan kekhawatiran. ATP Tour diperkirakan akan menjatuhkan denda kepada Moutet, mengingat ia memiliki catatan pelanggaran serupa sebelumnya. Pada 2022, ia didiskualifikasi dari Adelaide International setelah mengumpat kepada wasit usai kalah set kedua dari Laslo Djere. Federasi Tenis Prancis (FFT) bahkan mencabut bantuan keuangannya pada November tahun yang sama karena perilaku tidak sportif.
"Kami tidak bisa mentolerir perilaku seperti ini. Kami meminta pemain dan pelatih kami untuk bersikap teladan," ujar FFT dalam pernyataan resmi saat itu. Insiden di Queen's ini menunjukkan bahwa masalah pengendalian emosi masih menjadi titik lemah Moutet, yang belum pernah memenangkan gelar ATP Tour sepanjang kariernya.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan mental bagi atlet, terutama di era di mana setiap tindakan mereka terekspos media global. Federasi Tenis Indonesia (PELTI) dapat mengambil pelajaran dari sanksi tegas yang diterapkan ATP dan FFT untuk menekankan pentingnya sportivitas dan pengelolaan emosi di lapangan. Dengan semakin banyaknya atlet Indonesia yang berlaga di turnamen internasional, standar perilaku ini perlu ditanamkan sejak dini agar citra olahraga tanah air tetap terjaga.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Moutet akan mampu memperbaiki sikapnya atau justru terus terjerat masalah serupa. Sanksi finansial mungkin tidak cukup jika tidak dibarengi dengan program konseling atau pelatihan pengendalian diri. Dunia tenis tentu berharap pemain berbakat seperti Moutet dapat fokus pada performa di lapangan, bukan pada kontroversi di luar lapangan.



