Mantan Pelatih Basket Ateneo Diperiksa Polisi Terkait Tragedi Tenggelamnya Dua Pemain
Baca dalam 60 detik
- Tab Baldwin, eks pelatih tim basket Universitas Ateneo, memenuhi panggilan penyidik Filipina terkait kematian dua atlet saat latihan di pantai.
- Pihak kepolisian mengeluarkan surat panggilan kedua setelah kuasa hukum Baldwin hadir pada panggilan pertama, menandakan penyelidikan semakin intensif.
- Kasus ini menyoroti celah prosedur keselamatan dalam kegiatan olahraga universitas, yang relevan dengan standar keamanan di Indonesia.

Mantan pelatih kepala tim basket putra Universitas Ateneo de Manila, Tab Baldwin, akhirnya menghadiri pemeriksaan di markas Kepolisian Filipina, Jumat (19/6). Kehadirannya merupakan respons atas panggilan kedua dari otoritas yang tengah menyelidiki tewasnya dua pemain saat menjalani latihan di pesisir Dipaculao, Aurora, awal bulan ini.
Baldwin tiba di kantor Divisi Investigasi dan Deteksi Kriminal (CIDG) di Camp Crame, Quezon City, tanpa memberikan pernyataan kepada wartawan. Media pun dilarang mendekati lokasi pemeriksaan. Langkah ini menandai babak baru dalam penyelidikan yang menyita perhatian publik Filipina, khususnya di kalangan pegiat olahraga kampus.
Dua atlet, Rene Baterbonia dan Divine Adili, dilaporkan tenggelam saat mengikuti sesi latihan di tepi laut. Insiden itu memicu gelombang kritik terhadap manajemen universitas dan staf kepelatihan, yang dinilai lalai dalam menerapkan protokol keselamatan. Tak lama setelah tragedi, Ateneo mengumumkan pengunduran diri Baldwin dari posisinya sebagai pelatih kepala.
Sebelumnya, CIDG telah melayangkan surat panggilan pertama kepada Baldwin pada Senin pekan lalu. Namun, yang hadir saat itu adalah kuasa hukumnya, sehingga polisi memutuskan untuk menerbitkan panggilan kedua. Kini, dengan kehadiran Baldwin secara langsung, penyidik diyakini akan menggali lebih dalam soal prosedur latihan dan pengawasan yang diterapkan saat kejadian.
Kasus ini menjadi pengingat bagi institusi pendidikan di Indonesia yang kerap menggelar kegiatan olahraga di luar ruangan, termasuk di pantai. Standar keselamatan seperti ketersediaan alat pelampung, pelatih bersertifikat renang, dan prosedur tanggap darurat sering kali terabaikan. Menurut pengamat olahraga, regulasi yang ketat dan audit berkala mutlak diperlukan untuk mencegah tragedi serupa.
Ke depan, publik menanti apakah hasil penyelidikan akan membawa tuntutan pidana bagi pihak yang bertanggung jawab. Pertanyaan besarnya: akankah kasus ini mendorong reformasi menyeluruh dalam manajemen risiko kegiatan olahraga di kampus-kampus Asia Tenggara?



