Naira Melemah di Tengah Lonjakan Volume Transaksi Valas, Interbank Tembus $1,2 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Naira melemah tipis terhadap dolar AS meskipun volume transaksi antar bank melonjak 28% menjadi $1,256 miliar.
- Cadangan devisa Nigeria mencapai rekor tertinggi sejak 2009, didorong oleh penjualan hidrokarbon dan kenaikan produksi minyak.
- Penurunan harga minyak global ke bawah $80 per barel dan ketidakpastian suku bunga AS menjadi tekanan tambahan bagi nilai tukar Naira.

Naira Nigeria kembali terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat di pasar valuta asing antar bank, meskipun volume transaksi harian melonjak hingga menembus angka $1,2 miliar pada Selasa (18/3). Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan pembayaran internasional dari korporasi yang tidak sepenuhnya terimbas oleh tambahan likuiditas dari bank sentral.
Berdasarkan data yang dirilis Bank Sentral Nigeria (CBN), nilai tukar spot di Nigeria Foreign Exchange Market (NFEM) ditutup pada level N1.357,18 per dolar AS, sedikit melemah dibandingkan posisi sebelumnya di N1.356,27. Para pelaku pasar mencatat transaksi harian bergerak dalam rentang N1.355,50 hingga N1.359,00, menunjukkan tekanan permintaan yang masih tinggi.
Volume perdagangan antar bank melonjak 28% dalam 24 jam, dari $985,56 juta pada Senin menjadi $1,256 miliar. Lonjakan ini dipicu oleh peningkatan pembayaran valas dari perusahaan dan pelaku pasar yang memenuhi syarat. Namun, peningkatan pasokan tersebut belum cukup untuk mengimbangi derasnya permintaan, sehingga Naira tetap tertekan.
Di sisi fundamental, cadangan devisa Nigeria justru menunjukkan kinerja positif. Angka tersebut mencapai $50,813 miliar, level tertinggi sejak Januari 2009, didorong oleh aliran masuk dari penjualan hidrokarbon, harga minyak yang sempat tinggi, serta peningkatan volume produksi minyak Nigeria. Namun, tekanan eksternal mulai muncul seiring anjloknya harga minyak mentah global. Brent crude tercatat turun 3,6% ke bawah $80 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Maret, dipicu oleh optimisme kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dan melancarkan pasokan minyak global.
Pelemahan Naira ini terjadi di tengah dinamika global yang kompleks. Di satu sisi, cadangan devisa yang kuat memberikan bantalan, namun di sisi lain, penurunan harga minyak dan ketidakpastian kebijakan moneter AS menjadi beban. Bank Sentral AS (Federal Reserve) tengah menggelar pertemuan untuk menentukan suku bunga, dengan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan tetap ditahan. Tekanan dari Presiden Donald Trump untuk menurunkan suku bunga guna mendorong ekonomi belum membuahkan hasil, sehingga keputusan The Fed akan menjadi sinyal penting bagi pasar negara berkembang seperti Nigeria.
Bagi Indonesia, dinamika Naira dan minyak global menjadi pengingat akan kerentanan negara eksportir komoditas terhadap fluktuasi harga energi. Meskipun Indonesia bukan eksportir minyak utama, pergerakan harga minyak mempengaruhi pendapatan negara dan nilai tukar rupiah. Selain itu, keputusan suku bunga The Fed juga berdampak langsung pada arus modal asing ke pasar Indonesia. Dengan cadangan devisa Indonesia yang juga dalam tren meningkat, stabilitas rupiah tetap menjadi perhatian utama di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, pergerakan Naira akan sangat bergantung pada keberhasilan negosiasi damai di Timur Tengah, kebijakan suku bunga AS, serta kemampuan Nigeria menjaga produksi minyaknya. Pertanyaan yang muncul: akankah cadangan devisa yang tinggi cukup menjadi tameng bagi Naira, atau tekanan eksternal akan semakin memperlemah mata uang Afrika tersebut?



