PM Singapura Lawrence Wong Hadiri KTT ASEAN-Rusia di Kazan
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong akan menghadiri KTT Peringatan ASEAN-Rusia di Kazan pada 17-18 Juni, menandai 30 tahun kemitraan dialog dan 35 tahun hubungan kedua pihak.
- KTT ini membahas penguatan kerja sama di bidang energi, konektivitas, pendidikan, dan budaya, meskipun Singapura masih menjadi satu-satunya anggota ASEAN yang menjatuhkan sanksi terhadap Rusia sejak invasi Ukraina.
- Kehadiran Wong menegaskan posisi Singapura yang tetap menjalin dialog dengan Rusia di forum multilateral, namun tetap mempertahankan kebijakan sanksi yang membedakannya dari negara ASEAN lain.

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong akan bertolak ke Kazan, Rusia, untuk menghadiri KTT Peringatan ASEAN-Rusia pada 17-18 Juni mendatang. Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Wong sejak menjabat sebagai kepala pemerintahan, sekaligus menandai tonggak sejarah hubungan kedua pihak yang telah berlangsung selama tiga dekade.
Menurut pernyataan resmi Kantor Perdana Menteri Singapura (PMO), KTT ini digelar dalam rangka memperingati 30 tahun kemitraan dialog ASEAN-Rusia dan 35 tahun hubungan bilateral. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin ASEAN dan Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan membahas langkah-langkah untuk memajukan kemitraan strategis, termasuk memperkuat kerja sama di sektor energi, konektivitas, pendidikan, dan kebudayaan.
Presiden Putin akan menjadi tuan rumah bagi para pemimpin ASEAN dalam konser gala dan jamuan makan malam, serta mengikuti sidang pleno dan makan siang kerja. Agenda KTT juga mencakup pertemuan bilateral terpisah antara Putin dengan masing-masing pemimpin ASEAN. Sebelumnya, mantan Perdana Menteri Lee Hsien Loong menghadiri KTT serupa secara virtual pada 2021, dan hadir langsung di Sochi pada 2016.
Yang menarik, kehadiran Wong di Rusia terjadi di tengah ketegangan geopolitik akibat invasi Rusia ke Ukraina. Meskipun ASEAN secara konsisten terlibat dengan Rusia melalui forum seperti East Asia Summit dan ASEAN Regional Forum, Singapura tetap menjadi satu-satunya negara anggota yang secara resmi menjatuhkan sanksi terhadap Moskow. Sanksi yang diumumkan pada Februari 2022 itu mencakup kontrol ekspor barang yang dapat digunakan sebagai senjata di Ukraina, serta tindakan keuangan yang menargetkan bank-bank Rusia, entitas, dan aktivitas penggalangan dana untuk pemerintah Rusia.
Kebijakan ini menempatkan Singapura dalam posisi yang unik: di satu sisi, ia ingin menjaga hubungan diplomatik dan kerja sama dengan Rusia di tingkat regional; di sisi lain, ia tetap berpegang pada prinsip hukum internasional dengan menjatuhkan sanksi. Langkah ini berbeda dengan negara-negara ASEAN lain seperti Vietnam, Laos, atau Myanmar yang cenderung menghindari sanksi langsung terhadap Rusia.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pelajaran berharga. Sebagai anggota ASEAN yang juga memiliki hubungan dekat dengan Rusia—terutama di bidang pertahanan dan perdagangan—Indonesia kerap berada dalam posisi sulit antara menjaga netralitas dan menegakkan norma internasional. Kehadiran Wong di Kazan bisa menjadi sinyal bahwa ASEAN masih membuka ruang dialog, namun tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang telah disepakati bersama.
Dalam kunjungan ini, Wong akan didampingi Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan. Selama Wong berada di luar negeri, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong akan menjabat sebagai Pelaksana Tugas Perdana Menteri. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: akankah KTT ini menghasilkan terobosan baru dalam hubungan ASEAN-Rusia, atau justru mempertegas perbedaan sikap di antara negara-negara anggota terkait isu Ukraina?



