Serangan Hiu di Sydney: Pemusnahan Bukan Solusi, Ini Kata Sains
Baca dalam 60 detik
- Insiden gigitan hiu di Pantai Coogee memicu kembali wacana pemusnahan hiu di Australia, meskipun bukti ilmiah menunjukkan metode itu tidak efektif.
- Studi terbaru mengidentifikasi 40 faktor yang memengaruhi risiko gigitan hiu, dengan kombinasi aktivitas manusia dan perubahan lingkungan sebagai pemicu utama.
- Alternatif non-letal seperti drone dan SMART drumlines dinilai lebih efektif dan ramah lingkungan, serta didukung publik.

Serangan hiu terhadap seorang ibu muda di Pantai Coogee, Sydney, Sabtu lalu, kembali memanaskan perdebatan soal kebijakan pengendalian populasi hiu di Australia. Leah Stewart (35) yang sedang berenang sekitar 30 meter dari garis pantai menjadi korban gigitan hiu putih besar sepanjang tiga hingga empat meter. Insiden ini mendorong tokoh politik seperti Tony Abbott dan Perdana Menteri New South Wales Chris Minns untuk menyerukan pemusnahan hiu, khususnya hiu banteng yang dianggap meningkat agresivitasnya selama musim panas.
Namun, klaim bahwa jumlah hiu meledak dan menjadi penyebab utama meningkatnya gigitan tidak sepenuhnya didukung bukti ilmiah. Sebaliknya, banyak spesies hiu di dunia justru terancam punah. Australia memang memiliki perlindungan ketat dan perikanan yang terkelola baik, sehingga populasi hiu putih besar dan hiu banteng menunjukkan pemulihan. Akan tetapi, penelitian yang diterbitkan tahun lalu oleh para ilmuwan dari Macquarie University mengungkapkan bahwa peningkatan gigitan hiu lebih terkait dengan faktor kompleks, seperti pertumbuhan populasi manusia, modifikasi habitat, penurunan kualitas air, perubahan iklim, dan distribusi mangsa hiu.
Pemusnahan hiu, baik melalui penangkapan langsung maupun pemasangan jaring, dinilai kontroversial dan tidak terbukti efektif. Jaring hiu, misalnya, selain menangkap spesies berbahaya juga membunuh hewan laut lain seperti penyu, lumba-lumba, dan pari. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pemusnahan massal tidak otomatis menurunkan risiko gigitan. Sebaliknya, teknologi non-letal seperti drone untuk pengawasan udara, SMART drumlines yang memungkinkan penangkapan dan pemindahan hiu secara aman, serta stasiun pendengar yang mendeteksi hiu bertanda, telah terbukti lebih efektif dalam memberikan peringatan dini dan mengevakuasi pantai.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat tingginya aktivitas wisata bahari dan potensi konflik manusia-hiu di perairan Nusantara. Alih-alih mengadopsi kebijakan pemusnahan yang merusak ekosistem, Indonesia dapat belajar dari pendekatan Australia yang mengedepankan mitigasi berbasis bukti. Penggunaan drone dan sistem peringatan dini, misalnya, bisa diadaptasi untuk kawasan wisata seperti Bali atau Raja Ampat. Selain itu, edukasi publik tentang perilaku aman di laut dan penggunaan alat pengusir hiu pribadi yang mampu mengurangi risiko hingga 60% juga perlu digalakkan.
Para ahli menekankan bahwa tidak ada solusi tunggal untuk menghilangkan risiko gigitan hiu sepenuhnya, kecuali kolam renang yang terawat. Namun, kombinasi pengawasan area, alat pengusir pribadi, bahan anti-gigitan, dan pelatihan pertolongan pertama merupakan strategi paling efisien. Pertanyaannya, mampukah pemerintah dan masyarakat beralih dari pendekatan reaktif ke preventif, atau justru terus terjebak dalam mitos pemusnahan yang terbukti sia-sia?


