Kekeringan Ekstrem 61.000 Tahun Lalu: Penyebab Kepunahan Manusia Kerdil Flores
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengungkap bahwa Homo floresiensis punah akibat kekeringan parah yang berlangsung ribuan tahun, bukan karena ulah manusia modern.
- Analisis stalagmit dan gigi gajah kerdil Flores menunjukkan penurunan curah hujan drastis antara 76.000 hingga 55.000 tahun lalu.
- Temuan ini memperkuat bukti bahwa perubahan iklim purba menjadi faktor dominan dalam kepunahan spesies endemik di Indonesia.

Kekeringan berkepanjangan, bukan persaingan dengan manusia modern, menjadi dalang utama punahnya Homo floresiensis—manusia kerdil Flores—sekitar 61.000 tahun lalu. Sebuah studi multidisiplin yang melibatkan peneliti Australia, Amerika Serikat, China, dan Indonesia berhasil merekonstruksi iklim purba dan mengungkap krisis air yang memaksa spesies unik ini meninggalkan gua Liang Bua.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Michael K. Gagan dari Australian National University menganalisis stalagmit dari gua Liang Luar—berjarak hanya 660 meter dari Liang Bua—serta enamel gigi Stegodon florensis insularis, gajah kerdil Flores. Mereka menemukan bahwa curah hujan tahunan terus menurun antara 76.000 hingga 61.000 tahun lalu, diikuti kekeringan ekstrem pada 61.000–55.000 tahun lalu. Kondisi ini bertepatan dengan penurunan populasi stegodon, mangsa utama Homo floresiensis.
“Kombinasi kekeringan ekstrem dan persaingan memperebutkan sumber air menyebabkan Homo floresiensis dan gajah kerdil meninggalkan Liang Bua,” tulis para peneliti dalam jurnal Communications Earth & Environment edisi Desember 2025. Mereka menambahkan bahwa skenario paling masuk akal adalah migrasi hewan buruan ke habitat yang lebih basah, diikuti oleh manusia kerdil yang bergantung pada mereka.
Penemuan ini sekaligus mematahkan asumsi sebelumnya yang menduga bahwa Homo sapiens berperan dalam kepunahan Homo floresiensis. Revisi penanggalan menunjukkan bahwa manusia modern baru tiba di Flores sekitar 46.000 tahun lalu, sementara fosil terakhir manusia kerdil berasal dari 60.000 tahun lalu. “Tidak ada bukti interaksi langsung antara kedua spesies,” ujar Gagan dalam pernyataannya.
Bagi Indonesia, studi ini memiliki implikasi penting dalam memahami sejarah evolusi di Nusantara. Flores, dengan ekosistem pulaunya yang unik, menjadi laboratorium alami untuk mengkaji bagaimana perubahan iklim memengaruhi kelangsungan hidup spesies endemik. “Pengetahuan tentang kepunahan masa lalu dapat membantu kita memprediksi dampak perubahan iklim modern terhadap keanekaragaman hayati,” kata seorang paleontolog dari Universitas Gadjah Mada yang tidak terlibat dalam penelitian.
Homo floresiensis pertama kali ditemukan pada 2003 di Liang Bua. Tingginya hanya sekitar satu meter dengan volume otak kecil, namun mampu membuat alat batu dan berburu hewan besar seperti stegodon. Asal-usulnya masih diperdebatkan—ada yang menghubungkannya dengan Homo erectus Jawa, sementara analisis terbaru menunjukkan kemiripan dengan Homo habilis atau Homo ergaster. Yang jelas, spesies ini mengalami kerdil endemik akibat isolasi panjang di pulau dengan sumber daya terbatas.
Penelitian ini menegaskan bahwa perubahan lingkungan, bukan kompetisi antarmanusia, menjadi faktor penentu nasib Homo floresiensis. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah spesies endemik lain di Indonesia, seperti komodo atau anoa, juga menghadapi ancaman serupa akibat perubahan iklim yang dipercepat oleh aktivitas manusia?


