Jejak Hiu Paus Indonesia: Satu Dekade Melintasi 13 Negara, Pola Migrasi Tak Seragam
Baca dalam 60 detik
- Pelacakan satelit selama sepuluh tahun mengungkap hiu paus asal Indonesia bermigrasi melintasi 13 negara dan laut lepas Indo-Pasifik.
- Pola pergerakan mereka sangat beragam tergantung jenis kelamin, usia, dan musim, menuntut strategi konservasi yang lebih adaptif.
- Tanpa perlindungan koridor migrasi lintas batas, upaya konservasi di satu kawasan bisa sia-sia saat hiu paus meninggalkan area tersebut.

Hiu paus, ikan terbesar di dunia yang kerap dianggap lamban, ternyata menjelajahi ribuan kilometer melintasi batas negara dengan rute yang sulit ditebak. Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Marine Science mengungkap bahwa selama satu dekade, hiu paus yang dilacak dari perairan Indonesia bergerak melintasi 13 negara dan kawasan laut lepas di Indo-Pasifik—dengan pola migrasi yang tidak seragam.
Penelitian yang dilakukan oleh Conservation International Indonesia dan Konservasi Indonesia ini melacak sekitar 70 individu dari empat lokasi agregasi utama: Teluk Cenderawasih (Papua Tengah), Kaimana (Papua Barat), Teluk Saleh (Nusa Tenggara Barat), dan Teluk Tomini (Gorontalo). Dengan menggunakan fin-mounted satellite tag yang dipasang pada sirip punggung, para peneliti berhasil mengatasi kendala singkatnya masa transmisi alat pelacak konvensional. Perangkat ini mampu bertahan hingga tiga tahun, memungkinkan pemantauan perjalanan individu dalam jangka panjang.
Hasilnya mengejutkan: hiu paus dari Indonesia tidak hanya bergerak di dalam negeri, tetapi juga memasuki perairan Australia, Filipina, Kepulauan Marshall, dan berbagai negara lainnya. Jalur migrasi mereka membentang dari Christmas Island di barat hingga Kepulauan Marshall di timur, dari pesisir utara Australia di selatan hingga Filipina di utara. Namun, perjalanan setiap individu tidak mengikuti satu “peta jalan” yang sama. Pola migrasi sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, perilaku, dan musim.
Perbedaan habitat ini terlihat jelas: hiu paus jantan remaja lebih suka teluk dangkal yang kaya zooplankton, seperti Teluk Saleh dan Teluk Cenderawasih, yang menyediakan makanan stabil selama masa pertumbuhan. Sementara itu, jantan dewasa bergerak ke laut lepas, termasuk Samudra Hindia bagian tenggara, mengejar mangsa pelagis di sekitar ngarai bawah laut dan gunung laut. Betina remaja juga cenderung menggunakan perairan lebih dalam, dipengaruhi dinamika permukaan laut dan sistem ngarai bawah laut. Perbedaan ini mengurangi persaingan dalam satu populasi dan mencerminkan kebutuhan biologis yang berubah sepanjang hidup.
Koridor migrasi musiman seperti Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Timor, dan Samudra Pasifik menjadi “rest area” bagi hiu paus. Di sana, mereka memanfaatkan pusaran arus, zona pertemuan massa air, dan gunung laut yang mengonsentrasikan makanan. Namun, begitu meninggalkan teluk, hiu paus menghadapi risiko tinggi: tangkapan sampingan, tabrakan kapal, polusi, dan aktivitas perikanan tak berkelanjutan. Sayangnya, sebagian besar koridor ini belum memiliki aturan khusus untuk melindungi keterhubungan habitat satwa migran.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi besar. Sebagai negara dengan populasi hiu paus yang signifikan, Indonesia perlu mendorong kerja sama lintas batas dan pengelolaan berbasis keterhubungan habitat. Tanpa perlindungan pada seluruh rangkaian habitat—dari teluk hingga laut lepas—keberhasilan konservasi di satu lokasi bisa sia-sia. “Perlindungan berbasis lokasi tidak cukup,” tegas tim peneliti. “Pendekatan harus mempertimbangkan siklus hidup dan perbedaan pola migrasi antarjenis kelamin dan usia.”
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana negara-negara di Indo-Pasifik dapat menyelaraskan kebijakan untuk melindungi koridor migrasi hiu paus. Akankah kerja sama regional mampu mengimbangi laju ancaman yang dihadapi raksasa laut ini?


